Home Opini Hubble NASA melihat bintang berkilau pada tanggal 4 Juli

Hubble NASA melihat bintang berkilau pada tanggal 4 Juli

4
0


Bidang cemerlang bintang-bintang merah, putih dan biru berkelap-kelip dalam gambar baru dari Teleskop Luar Angkasa Hubble NASA, tampak seperti kilauan yang bersinar di langit malam. NASA merilis gambar ini untuk memperingati 250 tahun Amerika Serikat, merayakan sejarah panjang eksplorasi negara tersebut sekaligus memamerkan salah satu koleksi bintang tertua di galaksi kita.

Di luar tampilan patriotiknya, gambar tersebut menawarkan gambaran langka tentang sistem bintang yang bertahan hampir sepanjang sejarah alam semesta.

Gugus bintang berusia 13 miliar tahun

Objek yang ditampilkan adalah NGC 6426, sebuah gugus bola yang terletak di lingkaran luar Bima Sakti. Gugus bola adalah kumpulan bintang padat berbentuk bola yang tetap terikat oleh gravitasi. Sekitar 150 cluster kuno ini diketahui ada di galaksi kita.

Sebagian besar bintang dalam gugus globular lahir dari awan gas yang sama, sehingga usia mereka cenderung sama. NGC 6426 diperkirakan berusia sekitar 13 miliar tahun, menjadikannya salah satu gugus bola tertua di Bima Sakti. Karena alam semesta sendiri berumur sekitar 13,7 miliar tahun, gugus ini terbentuk tak lama setelah penciptaan kosmos.

Usia yang luar biasa ini menjadikan NGC 6426 sebagai kesaksian berharga mengenai kondisi awal alam semesta.

Apa arti warna pada gambar Hubble

Warna-warna cerah tidak hanya untuk daya tarik visual. Mereka mewakili panjang gelombang cahaya berbeda yang dikumpulkan melalui filter Hubble dan diproses menggunakan teknik ilmiah standar.

Biru menyoroti panjang gelombang cahaya tampak yang lebih pendek, sedangkan merah mewakili panjang gelombang tampak yang lebih panjang serta beberapa cahaya inframerah dekat. Karena warna bintang berkaitan erat dengan suhunya, bintang biru lebih panas dan bintang merah lebih dingin.

Bintang-bintang kuno mengungkapkan awal mula alam semesta

Bintang-bintang NGC 6426 memiliki apa yang oleh para astronom disebut sebagai logam rendah, yang berarti mereka mengandung sejumlah kecil unsur yang lebih berat daripada hidrogen dan helium. Komposisi kimiawi ini sangat mirip dengan komposisi alam semesta muda, ketika hampir seluruh materinya berupa hidrogen dan helium, dan unsur-unsur yang lebih berat baru mulai terbentuk di dalam bintang masif melalui fusi nuklir.

Para ilmuwan juga menemukan bahwa cluster tersebut mengandung dua populasi bintang yang berbeda secara kimia. Penemuan ini menunjukkan bahwa bintang-bintang yang sedikit lebih muda terbentuk setelah bintang masif generasi sebelumnya mengakhiri hidupnya dalam ledakan supernova yang dahsyat.

Ledakan ini menyebarkan unsur-unsur berat baru ke seluruh gugus, memperkaya gas yang kemudian melahirkan generasi bintang berikutnya. Proses yang sama secara bertahap memenuhi alam semesta dengan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menciptakan planet dan banyak elemen yang ditemukan di kosmos saat ini.

Hubble terus mengungkap sejarah Bima Sakti

NASA menangkap gambar ini sebagai bagian dari studi yang sedang berlangsung terhadap gugus bola di halo Bima Sakti. Dengan mengukur usia mereka dan memeriksa komposisi kimianya, para astronom berharap dapat lebih memahami bagaimana galaksi kita terbentuk dan berevolusi selama miliaran tahun.

Selama lebih dari 30 tahun, Teleskop Luar Angkasa Hubble telah mengubah pandangan kita tentang alam semesta melalui penemuan-penemuan inovatif. Saat ini, pengamatannya dilengkapi dengan Teleskop Luar Angkasa James Webb milik NASA, yang mempelajari kosmos dalam cahaya inframerah, sedangkan Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman, yang dijadwalkan diluncurkan pada akhir musim panas, diharapkan semakin memperluas pemahaman kita tentang alam semesta.