Dalam sebuah terobosan besar dalam pengobatan robotik, para peneliti di Universitas California, San Diego, telah berhasil menggunakan robot humanoid yang dioperasikan dengan teleoperasi untuk melakukan prosedur bedah dalam uji praklinis. Ini adalah pertama kalinya robot humanoid melakukan prosedur pembedahan penuh, yang berpotensi membuka pintu ke masa depan di mana robot membantu dan bahkan melakukan operasi di rumah sakit, daerah bencana, dan komunitas terpencil.
Inilah yang terjadi dan mengapa hal itu penting.
Apa yang dicapai para peneliti?
Ilmuwan dan ahli bedah UC San Diego telah berhasil melakukan dua operasi menggunakan robot humanoid pada mamalia besar non-primata.
-Tim robot manusia, di mana robot humanoid melakukan pengangkatan kandung empedu dengan bantuan ahli bedah manusia.
-Tim robot-robot, tempat dua robot humanoid bekerja sama untuk melakukan operasi bedah lainnya.
Para peneliti menggambarkan uji coba tersebut sebagai bukti konsep yang menunjukkan bahwa robot humanoid dapat dengan aman melakukan tugas bedah kompleks di bawah pengawasan manusia.
Bagaimana cara kerja robot-robot ini?
Tidak seperti robot otonom, mesin ini dioperasikan dengan tele, artinya ahli bedah mengontrol setiap gerakan dari jarak jauh menggunakan pengontrol khusus.
Robot ini pada dasarnya mencerminkan gerakan tangan ahli bedah secara real time, sehingga memungkinkan keahlian manusia untuk memandu setiap langkah operasi.
Para peneliti mengatakan teknologi ini pada akhirnya memungkinkan ahli bedah untuk mengoperasi pasien yang jaraknya ratusan atau bahkan ribuan mil.
Mengapa robot humanoid berbeda?
Sistem bedah robotik saat ini, seperti yang biasa ditemukan di rumah sakit canggih, dirancang khusus untuk pembedahan.
Robot humanoid menawarkan beberapa keunggulan:
-Mereka bisa berjalan dan bergerak seperti manusia
-Mereka dapat melakukan beberapa jenis tugas, tidak hanya operasi
-Mereka dapat menggunakan instrumen bedah konvensional dengan sedikit modifikasi
-Mereka cocok dengan ruang operasi yang ada tanpa perubahan infrastruktur besar
Robot yang digunakan dalam penelitian ini, yang diberi nama Surgie, memiliki tinggi sekitar 5 kaki dan berat sekitar 60 pon, menjadikannya jauh lebih kecil dibandingkan sistem bedah robotik konvensional, yang beratnya sekitar 1.800 pon.
Mengapa ini penting?
Para peneliti yakin robot humanoid dapat membantu memecahkan salah satu tantangan terbesar dalam layanan kesehatan: kekurangan ahli bedah.
Banyak daerah pedesaan dan daerah yang kurang terlayani kesulitan merekrut dokter spesialis, sehingga mengakibatkan:
-Mengurangi akses terhadap operasi
-Ketimpangan yang lebih besar dalam layanan kesehatan
Dengan mengizinkan ahli bedah berpengalaman untuk melakukan operasi jarak jauh, rumah sakit di daerah terpencil dapat memiliki akses terhadap prosedur khusus tanpa memerlukan tim bedah penuh di lokasi.
Teknologi ini juga terbukti berguna dalam:
-Operasi bantuan bencana
-Misi pencarian dan penyelamatan
Apakah robot menggantikan ahli bedah?
TIDAK.
Para peneliti menekankan bahwa teknologi ini dimaksudkan untuk membantu ahli bedah, bukan menggantikan mereka.
Pertama, robot humanoid harus:
-Bantuan selama operasi
-Pegang instrumen bedah
-Membantu mempersiapkan dan membersihkan ruang operasi
Baru kemudian, seiring kemajuan teknologi, mereka akan mampu melakukan prosedur yang lebih kompleks di bawah kendali manusia secara terus menerus.
Tantangan apa yang masih harus diatasi?
Meskipun operasinya berhasil, teknologinya masih dalam tahap awal.
Para peneliti telah mengidentifikasi beberapa kendala:
Robot-robot tersebut memerlukan kalibrasi ulang berulang kali selama operasi, sehingga membuat prosedurnya jauh lebih lambat dibandingkan sistem robotik yang ada.
Keterlambatan kecil antara perintah dokter bedah dan pergerakan robot tetap menjadi tantangan, terutama untuk operasi jarak jauh.
Prosedur pembedahan dilakukan pada hewan dalam uji praklinis. Uji klinis pada manusia memerlukan pengujian ekstensif dan persetujuan peraturan sebelum teknologi ini dapat diadopsi secara luas.
Mengapa robot humanoid lebih praktis?
Para peneliti mengatakan robot humanoid lebih fleksibel dibandingkan sistem bedah yang ada.
Daripada membatasi diri pada satu operasi saja, mereka dapat:
-Membantu dalam beberapa spesialisasi bedah
-Melakukan tugas rumah sakit umum
-Beradaptasi dengan lingkungan perawatan yang berbeda
-Bekerja di fasilitas medis sementara atau bergerak
Karena mirip dengan pekerja manusia, mereka juga dapat lebih menyesuaikan diri dengan alur kerja rumah sakit yang ada.
Uji coba yang sukses ini merupakan langkah awal namun penting dalam bedah robotik.
Tim peneliti berencana untuk meningkatkan:
-Responsivitas kendali jarak jauh
Jika penelitian di masa depan berhasil, robot humanoid pada akhirnya bisa menjadi asisten rutin di ruang operasi, membantu ahli bedah memberikan perawatan khusus kepada pasien di mana pun lokasinya.






















