DENPASAR, Bali – Pertanyaan baru muncul menyusul kematian seorang pria Australia di tahanan imigrasi di Bali. Keluarganya mengatakan bahwa mereka diberi informasi yang bertentangan mengenai keadaan di sekitar jam-jam terakhirnya.
Keluarga Cameron Hughes, 39, mengatakan mereka mencari jawaban dari pihak berwenang Indonesia setelah Hughes meninggal saat ditahan di kantor imigrasi Ngurah Rai pada hari Jumat. Mereka juga berencana untuk bekerja sama dengan pejabat konsulat Australia untuk lebih memahami bagaimana dia ditangkap dan apa yang terjadi selama dia ditahan.
Perkembangan terakhir ini terjadi beberapa hari setelah otoritas imigrasi Indonesia mengonfirmasi bahwa Hughes telah meninggal saat menunggu deportasi karena dugaan pelanggaran peraturan imigrasi.
Baca laporan kami sebelumnya: Warga Australia meninggal dalam tahanan imigrasi di Bali
Keluarga mencari kejelasan
Menurut surat kabar Australia ABC News, Hughes telah tinggal di Bali selama lebih dari 15 tahun, di mana ia membangun kehidupan, menjalankan bisnis restorasi mobil di Jimbaran dan membesarkan seorang putra berusia delapan tahun dengan mantan istrinya yang berkewarganegaraan Indonesia.
Dalam pernyataannya, keluarganya menggambarkan Hughes sebagai ayah berbakti yang telah bekerja keras membangun kehidupan untuk dirinya sendiri di Bali.
“Cameron adalah orang cantik yang sangat mencintai keluarganya dan merupakan ayah yang berbakti,” kata keluarga tersebut.
“Dia tangguh, pekerja keras, dan bangga mengatasi tantangan untuk membangun kehidupan yang baik. »
Keluarga mengatakan mereka sangat terpukul dengan kematiannya dan sekarang mencoba memahami keadaan yang menyebabkan kematian tersebut.
“Kami akan bekerja sama dengan staf konsuler untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dan bekerja sama dengan mereka untuk memahami situasi sepenuhnya,” kata keluarga tersebut.
Akun dalam konflik
Salah satu masalah utama yang diangkat oleh keluarga tersebut adalah mengenai apa yang mereka gambarkan sebagai informasi yang bertentangan mengenai penahanan dan kematian Hughes.
Keluarga tersebut juga membantah anggapan bahwa Hughes tidak kooperatif dengan otoritas imigrasi, dan mengatakan bahwa dia telah melakukan kontak rutin dengan pihak berwenang mengenai status imigrasinya.
Hal ini berbeda dengan penjelasan yang diberikan oleh otoritas imigrasi Indonesia, yang sebelumnya mengatakan Hughes mengabaikan beberapa panggilan sebelum petugas menangkapnya pada hari Jumat sambil menunggu deportasi.
Investigasi berlanjut
Pejabat imigrasi mengatakan Hughes kemudian ditemukan tidak sadarkan diri di dalam pusat penahanan setelah petugas memperhatikan dia tidak bergerak di toilet sementara kamera CCTV diawasi.
Pihak berwenang mengatakan petugas polisi segera memberikan pertolongan pertama sebelum staf medis membawa Hughes ke Rumah Sakit Umum Bali Jimbaran, di mana dia dinyatakan meninggal dalam perjalanan.
Hasil medis awal menunjukkan Hughes mungkin menderita serangan jantung, meski pihak berwenang menekankan bahwa penyebab pasti kematiannya masih dalam penyelidikan.
Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) membenarkan pihaknya memberikan bantuan konsuler kepada keluarga Hughes.
“Kami menyampaikan belasungkawa terdalam kami kepada keluarga di masa sulit ini,” kata juru bicara DFAT.
“Karena kewajiban kerahasiaan kami, kami tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut.”
Ketika pihak berwenang Indonesia terus menyelidiki penyebab kematian Hughes, keluarga Hughes berharap penyelidikan ini akan membantu mengklarifikasi laporan yang bertentangan dan menjelaskan apa yang terjadi pada jam-jam terakhirnya di tahanan imigrasi.
Penafian: Meskipun segala upaya telah dilakukan untuk memastikan keakuratannya, artikel ini mungkin mengandung sedikit ketidakakuratan dalam nama, lokasi, atau detail acara. Pembaca diundang untuk menghubungi tim editorial untuk klarifikasi apa pun.






















