Bulan lalu, Peterson Institute for International Economics merilis laporan yang memperingatkan betapa parahnya “krisis Tiongkok”, yang menganalisis dampak perekonomian Tiongkok terhadap negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Istilah tersebut mengacu pada fenomena ekonomi internasional di mana Tiongkok tetap menempati posisi dominan dalam manufaktur global, meskipun sektor tersebut erat kaitannya dengan upah rendah dan tingkat pendapatan negara tersebut meningkat secara signifikan akibat pertumbuhan ekonomi. Akumulasi sejarah perekonomian internasional menunjukkan kepada kita bahwa sektor manufaktur pada umumnya berpindah ke tempat-tempat yang upahnya lebih rendah. Namun, Tiongkok terbukti menjadi negara yang tidak lazim di mana industri manufaktur tidak berbondong-bondong ke negara-negara berkembang lainnya yang memiliki tingkat pendapatan lebih rendah, namun tetap tinggal di negara yang upahnya meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Faktor utama yang mendorong fenomena ini adalah cengkeraman kuat Tiongkok pada rantai pasokan global. Tiongkok masih mempertahankan kendali atas material dan komponen dengan memasoknya dengan harga murah, sehingga semakin sulit bagi perusahaan yang bergantung pada material dan komponen tersebut untuk keluar.






















