
Paris Saint-Germain menulis babak baru dalam sejarah sepak bola Eropa setelah mengalahkan Arsenal di final dan sukses mempertahankan gelar mereka Liga Champions UEFA mahkota. Kemenangan di Budapest menutup kampanye luar biasa lainnya bagi raksasa Prancis, yang mengawali musim dengan tekanan untuk membuktikan bahwa kesuksesan tahun lalu bukanlah pencapaian yang berdiri sendiri.
ITU kemenangan atas ArsenSaya memastikan bahwa PSG tetap berada di puncak sepakbola Eropa dan mengamankan tempat di antara klub paling eksklusif di sepakbola. Bagi tim yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mengejar kejayaan di benua itu, prestasi ini mewakili tonggak sejarah lain di era yang terus mendefinisikan kembali posisi klub di panggung terbesar.
Perjalanan PSG menuju final jauh dari kata sederhana. Meski memasuki turnamen sebagai juara bertahan, tim Prancis menghadapi pertanyaan di awal musim setelah finis di luar tempat kualifikasi otomatis selama tahap kejuaraan. Kekalahan dari Barcelona dan Bayern Munich menimbulkan keraguan apakah tim asuhan Luis Enrique bisa mengulangi kesuksesan mereka.
Kekhawatiran tersebut dengan cepat memudar begitu babak 16 besar dimulai. Klub Paris ini menunjukkan kekuatan ofensifnya sepanjang tahap akhir kompetisi. Kemenangan melawan Monaco, Chelsea dan Liverpool menyoroti kepercayaan diri tim yang semakin meningkat, sementara kesuksesan spektakuler di semifinal melawan Bayern menunjukkan ketahanan yang dibutuhkan untuk mencapai final lainnya.
Pelatih kepala PSG Luis Enrique bereaksi antusias setelah final Liga Champions UEFA.
Ketika PSG tiba di Budapest, momentum sudah berpihak pada mereka. Juara Ligue 1 itu telah memenangkan gelar nasional lainnya dan tampak siap menghadapi tantangan terbesar musim ini.
Perjalanan impian Arsenal berakhir pada rintangan terakhir
Arsenal melaju ke final dengan penuh percaya diri setelah mengakhiri penantian panjang mereka meraih gelar juara Liga Inggris. Pasukan Mikel Arteta menjalani kampanye Eropa yang luar biasa dan mencapai Budapest tanpa menderita satu kekalahan pun di kompetisi tersebut.
The Gunners melewati pertandingan sistem gugur yang sulit melawan Bayer Leverkusen, Sporting Lisbon dan Atletico Madrid. Disiplin dan organisasi taktis mereka mendapat pujian luas dan membawa tim mencapai final Piala Eropa pertama dalam dua dekade. Namun, final terbukti merupakan langkah yang terlalu jauh melawan tim PSG yang penuh pengalaman dan kualitas ofensif.
Kai Havertz dari Arsenal.
Pada akhirnya, kedalaman ofensif Perancis terbukti menentukan. Sang juara bertahan menemukan momen-momen berkualitas di tempat yang paling penting, memungkinkan klub Prancis mempertahankan mahkota Eropa mereka.
Catatan sejarah akhirnya terungkap
Pentingnya kemenangan PSG lebih dari sekedar final sederhana. Dengan mengangkat trofi untuk musim kedua berturut-turut, juara Prancis itu menjadi satu-satunya klub kesembilan dalam sejarah yang sukses mempertahankan Piala Eropa atau Liga Champions dan menjadi klub kedua yang mencapai prestasi tersebut di era Liga Champions modern..
PSG kini bergabung dengan grup elit yang mencakup Real Madrid, Benfica, Inter, Ajax, Bayern Munich, Liverpool, Nottingham Forest dan Milan. Yang lebih luar biasa lagi, PSG menjadi klub Prancis pertama yang mempertahankan trofi klub terbesar di Eropa. Prestasi ini menempatkan tim Luis Enrique sejajar dengan beberapa dinasti terhebat yang pernah ada dalam olahraga ini.
Selama bertahun-tahun, mempertahankan gelar Liga Champions dianggap sebagai salah satu tantangan terberat dalam sepakbola. Sejak perubahan nama kompetisi pada tahun 1992, hanya Real Madrid yang berhasil mencapai prestasi ini, dengan memenangkan tiga gelar berturut-turut antara tahun 2016 dan 2018. Kini mereka menambahkan namanya ke dalam daftar eksklusif ini.






















