Home Opini Hilang selama 150.000 tahun: penemuan hutan tropis mengubah sejarah umat manusia

Hilang selama 150.000 tahun: penemuan hutan tropis mengubah sejarah umat manusia

3
0


Hutan hujan lebat telah lama dianggap sebagai salah satu tempat terakhir di mana manusia purba dapat bertahan hidup. Selama beberapa dekade, para peneliti percaya bahwa nenek moyang kita sebagian besar hanya hidup di padang rumput terbuka dan wilayah pesisir, menghindari hutan lebat di Afrika hingga akhir sejarah. Bukti dari Afrika Barat kini memaksa para ilmuwan untuk secara radikal memikirkan kembali hipotesis ini.

Para peneliti yang menyelidiki situs arkeologi di tempat yang sekarang disebut Pantai Gading telah menemukan bukti bahwa manusia hidup di hutan hujan tropis sekitar 150.000 tahun yang lalu. Penemuan ini mendorong mundur bukti tertua yang diketahui mengenai keberadaan hutan hujan sebanyak lebih dari dua kali lipat perkiraan sebelumnya dan menunjukkan bahwa Homo sapiens awal jauh lebih mudah beradaptasi daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Hasilnya, dipublikasikan di Alammendukung pandangan yang berkembang bahwa evolusi manusia tidak terjadi dalam satu lingkungan. Sebaliknya, populasi manusia purba tampaknya tumbuh subur di berbagai ekosistem, mulai dari gurun dan pesisir hingga hutan lebat.

Peralatan batu kuno tersembunyi di bawah hutan

Kisahnya dimulai beberapa dekade yang lalu. Pada tahun 1980-an, Profesor Yodé Guédé dari Universitas Félix Houphouët-Boigny membantu menyelidiki situs yang dikenal sebagai Bété I selama misi penelitian gabungan Pantai Gading-Soviet. Penggalian telah menemukan lapisan peralatan batu yang terkubur jauh di bawah tanah di tempat yang sekarang menjadi wilayah hutan hujan.

Pada saat itu, para peneliti tidak dapat secara akurat menentukan usia alat-alat tersebut atau seperti apa lingkungan ketika manusia purba tinggal di sana. Hal ini berubah ketika tim internasional kembali ke lokasi tersebut dengan menggunakan teknologi modern yang tidak dapat diakses oleh para ilmuwan empat puluh tahun sebelumnya.

“Dengan bantuan Profesor Guédé, kami memindahkan parit asli dan dapat memeriksanya kembali menggunakan metode mutakhir yang tidak tersedia tiga puluh atau empat puluh tahun yang lalu,” kata Dr James Blinkhorn dari Universitas Liverpool dan Institut Max Planck untuk Geoantropologi.

Waktu terbukti penting. Sejak penggalian baru, aktivitas penambangan telah menghancurkan situs tersebut, menjadikan data yang ditemukan sangat berharga.

Bukti lingkungan hutan hujan yang sesungguhnya

Untuk menentukan usia situs tersebut, para ilmuwan menggunakan beberapa teknik penanggalan, termasuk pendaran yang distimulasi secara optik dan resonansi putaran elektron. Kedua metode tersebut menunjukkan adanya pendudukan manusia sekitar 150.000 tahun yang lalu.

Para peneliti kemudian menganalisis serbuk sari, fitolit (struktur silika kecil yang ditinggalkan tanaman) dan jejak kimia yang tersimpan dalam sedimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan tersebut merupakan hutan lebat ketika manusia tinggal di sana.

Sampel tersebut mengandung serbuk sari dan lilin tanaman yang berasal dari hutan hujan Afrika Barat, sementara tingkat serbuk sari rumput yang sangat rendah menunjukkan bahwa lokasi tersebut dikelilingi oleh hutan lebat dan bukan hutan tipis.

Sebelum penemuan ini, bukti tertua yang aman mengenai kehidupan manusia di hutan hujan Afrika hanya berumur sekitar 18.000 tahun. Rekor dunia untuk habitat hutan hujan sebelumnya berasal dari Asia Tenggara dan terjadi sekitar 70.000 tahun yang lalu.

“Sebelum penelitian kami, bukti tertua yang aman mengenai keberadaan tempat tinggal di hutan hujan Afrika berusia sekitar 18.000 tahun dan bukti tertua tempat tinggal di hutan hujan berasal dari Asia Tenggara, sekitar 70.000 tahun yang lalu,” jelas penulis utama Dr Eslem Ben Arous. “Hal ini mendorong mundurnya bukti tertua keberadaan manusia di hutan tropis sebanyak lebih dari dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya.”

Memikirkan kembali evolusi manusia

Penemuan ini menambah semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa manusia purba merupakan generalis ekologi yang mampu bertahan hidup di berbagai habitat berbeda. Para ilmuwan semakin yakin bahwa fleksibilitas ini mungkin membantu Homo sapiens berhasil menyebar ke seluruh dunia sementara kerabat manusia lainnya punah.

Diskusi lanjutan seputar penelitian ini juga menyoroti betapa sulitnya arkeologi hutan hujan. Fosil jarang bertahan di lingkungan yang hangat dan lembab, dan vegetasi yang lebat membuat penggalian menjadi sulit. Karena alasan ini, banyak ilmuwan menduga bahwa mungkin masih ada situs hutan hujan tua yang masih menunggu untuk ditemukan di Afrika.

Studi ini juga menimbulkan pertanyaan lebih besar mengenai berapa lama manusia telah mempengaruhi ekosistem tropis. Para peneliti kini sedang menyelidiki apakah populasi purba mungkin telah membentuk lingkungan hutan hujan jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya, melalui perburuan, penggunaan api, dan pengelolaan tanaman.

“Bukti yang menyatu menunjukkan tanpa keraguan bahwa keanekaragaman ekologi adalah inti dari spesies kita,” kata Profesor Eleanor Scerri, penulis utama studi tersebut. “Hal ini mencerminkan sejarah pembagian populasi yang kompleks, di mana populasi yang berbeda hidup di wilayah dan tipe habitat yang berbeda.”

Para ilmuwan yakin penemuan Pantai Gading mungkin hanyalah permulaan. Beberapa situs lain di kawasan ini sebagian besar masih belum dijelajahi, sehingga menunjukkan bahwa bukti-bukti yang lebih tua mengenai keberadaan manusia yang hidup di hutan hujan mungkin masih belum ditemukan.

Penelitian ini didanai oleh Max Planck Society dan Leakey Foundation.