Home Dunia Memetakan Jakarta selama lima abad

Memetakan Jakarta selama lima abad

3
0


Pada bulan Juni, Jakarta merayakan hari jadinya yang ke-499 dengan tema “Menuju era baru.” Peringatan ini menandai tanggal 22 Juni 1527, ketika Fatahillah mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa dan mengganti nama pemukiman menjadi Jayakarta, yang berarti “kemenangan penuh” atau “kota kemenangan”.

Hampir lima abad kemudian, di balik cakrawala modern Jakarta terdapat sebuah kota yang dibentuk oleh budaya, perdagangan, dan perubahan selama berabad-abad. Seiring dengan perkembangan Jakarta, banyak orang yang mengabaikan sejarah yang ada di baliknya. Beberapa kisah terhebat di Jakarta tidak terekam dalam bangunannya, namun dalam peta yang mengungkap bagaimana pelabuhan dagang kecil ini tumbuh menjadi salah satu kota terbesar di Asia.

Peta lebih dari sekedar alat navigasi. Mereka menyederhanakan dunia dan membantu kita memahaminya, menjelajahinya, membangunnya, dan terhubung dengannya. Museum-museum tersebut bukan sekadar kesaksian masa lalu, namun merupakan jembatan antara masa lalu dan masa kini, menceritakan kisah-kisah sejelas museum mana pun.

Salah satu tempat untuk menemukan cerita ini adalah Galeri Bartele di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Menampung koleksi peta tua, buku langka, litograf, dan karya sejarah di atas kertas, galeri ini menelusuri transformasi Jakarta selama lima abad melalui peta yang mencatatnya, memberikan perspektif langka mengenai evolusi kota.

Batavia Lama

Dari Jayakarta hingga Batavia

Jayakarta yang baru diberi nama terletak di sepanjang pantai utara Jawa dan dengan cepat menjadi pelabuhan perdagangan penting. Pedagang dari seluruh Asia datang untuk berdagang barang, membawa ide dan pengaruh baru yang membentuk koloni tersebut.

Semakin pentingnya hal ini segera menarik perhatian Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC). Ketika Belanda mendirikan Batavia pada tahun 1619, mereka membangun lebih dari sekedar pos perdagangan. Terinspirasi oleh Amsterdam, pemukiman kolonial ini dirancang dengan kanal, tembok benteng, dan jalan yang tertata rapi untuk mendukung perdagangan dan pertahanan. Gudang, pasar, dan gedung pemerintahan dibangun di sepanjang perairan kota, sehingga barang-barang dari seluruh kepulauan Indonesia dapat mengalir secara efisien melalui salah satu pelabuhan perdagangan tersibuk di Asia. Batavia dengan cepat menjadi pusat administrasi dan komersial di Hindia Belanda, menarik para pedagang dan komunitas dari seluruh Asia, Eropa, dan Timur Tengah, serta membantu membentuk Jakarta yang beragam seperti yang kita kenal sekarang.

Sebagian besar Batavia telah hilang di bawah pengaruh kota modern, namun jejak masa lalunya masih tetap ada.

Foto lama The Star of Java

Membaca sejarah melalui kartografi

Sejarah Jakarta bertahan tidak hanya dalam arsip dan museum, namun juga dalam peta yang memetakan evolusi kota dari waktu ke waktu. Dari penggambaran awal Batavia hingga peta rinci kepulauan Indonesia, karya-karya ini mengungkap bagaimana para penjelajah, pedagang, dan kartografer memahami dunia yang sangat berbeda dari yang kita kenal sekarang.

Didirikan pada tahun 2009 oleh kolektor dan pedagang barang antik Belanda-Indonesia Bartele Santema, Bartele Gallery telah hadir di Jakarta sejak tahun 2011, dimulai di Kemang, berlanjut melalui Mandarin Oriental Jakarta dan sekarang Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Galeri ini menyajikan kepada pengunjung peta kuno, buku langka, litograf, ukiran, dan karya sejarah yang berkaitan dengan Asia dan bekas Hindia Belanda.

Galeri Bartele menyajikan koleksi yang dikurasi dengan cermat selama lebih dari lima abad. Di lokasinya di Jakarta dan Belanda, perusahaan ini mengelola lebih dari 20.000 benda bersejarah, banyak di antaranya juga tersedia di pasar seni rupa internasional 1stDibs, sehingga koleksinya dapat diakses oleh museum, universitas, perpustakaan, dan kolektor di seluruh dunia.

Berjalan menyusuri Galeri Bartele seperti menjelajahi sejarah Jakarta. Daripada membaca tentang masa lalu kota ini, pengunjung dapat menelusuri transformasinya melalui peta, buku, dan ilustrasi berusia berabad-abad, sambil menyaksikan ibu kota secara bertahap terbentuk seiring berjalannya waktu.

Bagi mereka yang mengenal Jakarta, perbedaannya sangat mencolok. Melihat peta-peta ini, sulit membayangkan kota kanal yang digambarkan akan menjadi Jakarta saat ini.

Koleksi Galeri Bartele juga mencakup karya-karya beberapa kartografer paling terkenal dalam sejarah, termasuk Gerardus Mercator, Abraham Ortelius, Willem Blaeu dan Petrus Plancius. Peta mereka tidak hanya menggambarkan kepulauan Indonesia, tetapi juga mencerminkan semakin berkembangnya pemahaman Eropa dalam kaitannya dengan Asia di Era Eksplorasi. Selain kartografi, buku-buku langka, cetakan, litograf, manuskrip, peta bahari, dan ukiran sejarah memberikan jendela lain ke masa lalu Indonesia, dan menjadi jembatan alami menuju babak selanjutnya dari kota ini.

Di dalam Galeri Bartele

Babak baru bagi Jakarta

Sejarah Jakarta tidak berakhir di Batavia. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, kota ini memasuki babak baru, menjadi ibu kota modern yang kita kenal sekarang.

Salah satu momen menentukan terjadi pada Asian Games 1962. Saat Indonesia bersiap menyambut para atlet dan pengunjung dari seluruh Asia, Presiden Soekarno meluncurkan serangkaian proyek ambisius untuk menjadikan Jakarta sebagai negara muda dan mandiri di dunia. Inti dari visi ini adalah Hotel Indonesia, yang dirancang oleh arsitek Amerika Abel Sorensen dan arsitek Indonesia Soejoedi Wirjoatmodjo mengawasi pembangunannya. Hotel ini dibuka pada tanggal 5 Agustus 1962 sebagai hotel mewah bertaraf internasional pertama di Indonesia.

Dinamakan setelah hotel tersebut, Bundaran HI (Bundaran Hotel Indonesia) menjadi pusat kota modern Soekarno Jakarta, dengan monumen Selamat Datang (“data selamat”dalam bahasa Inggris berarti “selamat datang”). Dirancang oleh Henk Ngantung dan dipahat oleh Edhi Sunarso, monumen ini menggambarkan seorang pria dan wanita menyambut pengunjung ibu kota dan tetap menjadi salah satu landmark paling dikenal di Jakarta, simbol keterbukaan Indonesia terhadap dunia.

Setelah restorasi ekstensif, Hotel Indonesia dibuka kembali pada tahun 2009 sebagai Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, mempertahankan karakter bangunan aslinya untuk generasi baru.

Saat ini, hotel ini menyatukan dua babak penting dalam sejarah Jakarta. Arsitekturnya mencerminkan visi Indonesia pasca kemerdekaan, sedangkan Galeri Bartele, yang terletak di dalam temboknya, melestarikan sejarah kota yang jauh lebih awal melalui peta berusia berabad-abad dan karya sejarah di atas kertas.

Di dalam Galeri Bartele

Lihatlah melampaui cakrawala

Untuk memahami sebuah kota, kita harus melihat melampaui cakrawalanya dan menemukan kisah-kisah yang membentuknya. Dari peta berusia berabad-abad dan jalan-jalan di Kota Tua hingga landmark Jakarta modern, masing-masing mengungkap babak lain dari perjalanan kota ini.

Sebuah kota memiliki jiwa karena masa lalunya terus membentuk masa kini. Di Jakarta, sejarah ini terus hidup melalui masyarakatnya, budayanya, lingkungannya, dan peta-peta yang telah melestarikan sejarahnya selama berabad-abad.

Sejarah Jakarta masih terus ditulis. Namun beberapa bab yang paling mengungkap hal ini telah digambar berabad-abad yang lalu, satu demi satu peta.

Galeri Bartele Jakarta