BADUNG, Bali — Sebuah video viral yang melibatkan DJ Indonesia Gebby Vesta dan seorang pendamping asing telah memicu diskusi baru tentang praktik transportasi wisata di Bali setelah kedua pria tersebut mengklaim bahwa mereka ditekan untuk membayar ekstra oleh sopir taksi lokal.
Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi pada Minggu, 31 Mei dini hari, setelah kedua pria tersebut keluar dari sebuah restoran di kawasan Kerobokan, Kuta Utara, Kabupaten Badung.
Menurut akun Gebby yang dibagikan di media sosial, dia setuju untuk menyewa taksi lokal seharga Rp 300.000, meskipun dia mengklaim bahwa tarif yang sebanding pada saat itu jauh lebih rendah. Ia mengaku menyetujui tarif tersebut karena sebelumnya ia pernah menggunakan jasa supir yang sama.
Situasi diduga bertambah buruk ketika pengemudi berulang kali meminta pembayaran tambahan dan mengikuti rekannya yang berkewarganegaraan asing saat mencoba menarik uang dari ATM. Gebby mengaku turis tersebut semakin risih karena isu uang terus dilontarkan.
Dia lebih lanjut menuduh bahwa pengemudi kemudian meminta tambahan Rp 200.000 di luar tarif yang disepakati, yang berujung pada pertengkaran verbal. Konfrontasi dilaporkan berlanjut di sebuah toko terdekat, di mana rekaman yang dibagikan secara online menunjukkan turis asing tersebut tampak kesal.
Menurut Gebby, kejadian tersebut baru berakhir setelah dia mulai merekam interaksi tersebut di ponselnya.
Berbicara setelah video tersebut mendapat perhatian online, Gebby mengatakan dia memutuskan untuk mempublikasikan kejadian tersebut karena dia yakin orang lain mungkin juga mengalami situasi serupa, namun enggan untuk berbicara.
Video tersebut kemudian menarik perhatian luas di platform media sosial, dengan banyak pengguna yang berbagi pandangan mereka tentang layanan transportasi wisata di Bali.
Perselisihan mengenai layanan transportasi sering kali muncul di beberapa kawasan wisata tersibuk di Bali, di mana pengunjung sering kali menjumpai gabungan antara taksi konvensional, operator transportasi lokal, dan layanan ride-hailing berbasis aplikasi. Meskipun sebagian besar perjalanan berlangsung tanpa insiden, perbedaan pendapat mengenai tarif dan akses transportasi terkadang memicu perdebatan publik.
Insiden terbaru ini telah menghidupkan kembali perdebatan mengenai transparansi harga, kenyamanan pengunjung dan dampak yang lebih luas dari pengalaman perjalanan negatif terhadap reputasi Bali sebagai salah satu tujuan wisata paling populer di Asia.
Penafian: Meskipun segala upaya telah dilakukan untuk memastikan keakuratannya, artikel ini mungkin mengandung sedikit ketidakakuratan dalam nama, lokasi, atau detail acara. Pembaca diundang untuk menghubungi tim editorial untuk klarifikasi apa pun.






















