Home Ekonomi Lebih sedikit wisatawan, pendapatan lebih tinggi: Bali lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas

Lebih sedikit wisatawan, pendapatan lebih tinggi: Bali lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas

2
0


DENPASAR, Bali — Bali mungkin menerima lebih sedikit pengunjung asing tahun ini, namun pulau ini mengumpulkan lebih banyak dana dari pariwisata.

Menurut Gubernur Bali Wayan Koster, kunjungan wisman turun sekitar 7% pada Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menyusul penurunan pada bulan April sebesar 9%.

Penurunan ini terjadi dalam konteks ketidakpastian global, terutama gangguan jalur udara antara Eropa dan Asia terkait ketegangan di Timur Tengah.

Meski jumlah pengunjung menurun, penerimaan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) Bali terus meningkat.

Pemerintah provinsi mencatat pendapatan PHR sebesar Rp 2,89 triliun antara 1 Januari hingga 27 Mei, dibandingkan Rp 2,62 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Hingga akhir Mei, angka tersebut diperkirakan mencapai Rp 2,9 triliun.

Bagi Koster, angka-angka ini memperkuat pesan yang semakin ia dorong: Bali harus mengurangi fokus pada volume pengunjung dan lebih fokus pada kualitas pengunjung.

“Pendapatan PHR meningkat sekitar Rp 300 miliar,” kata Koster kepada wartawan, Senin.

Gubernur mengatakan angka-angka tersebut menunjukkan bahwa sejumlah besar wisatawan yang saat ini berkunjung ke Bali mengeluarkan lebih banyak uang, tinggal di akomodasi yang disetujui dan memberikan kontribusi langsung terhadap perekonomian formal.

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa beberapa pengunjung yang tidak lagi datang ke Bali mungkin telah menggunakan akomodasi tanpa izin pada tahun-tahun sebelumnya.

“Bisa jadi 7 persen yang tidak datang itu sebelumnya menginap di hotel yang tidak berizin,” kata Koster.

Pernyataan tersebut muncul ketika pemerintah Bali melanjutkan upaya mereka untuk menindak bisnis pariwisata tidak berizin yang beroperasi di pulau tersebut.

Pejabat provinsi baru-baru ini bertemu dengan beberapa agen perjalanan online (OTA) untuk membahas langkah-langkah guna meningkatkan kepatuhan hotel dan vila yang terdaftar di platform mereka.

Masalah ini semakin menjadi perhatian seiring upaya Bali untuk menyeimbangkan pertumbuhan pariwisata dengan regulasi, pengumpulan pajak, dan keberlanjutan jangka panjang.

Selama beberapa dekade, keberhasilan industri pariwisata Bali sebagian besar diukur dari jumlah kedatangan wisatawan. Namun pihak berwenang kini tampaknya semakin tertarik dengan apa yang dapat disumbangkan oleh para pengunjung ini setelah kedatangan mereka.

Angka pajak terbaru memberikan bukti yang mendukung argumen ini.

Meskipun jumlah pengunjung menurun, belanja tampaknya tetap tinggi, terutama di kalangan wisatawan yang menggunakan hotel dan restoran yang disetujui.

Namun, tantangan masih tetap ada.

Sebagian besar aktivitas pariwisata Bali – dan pendapatan pajak yang dihasilkan – masih terkonsentrasi di bagian selatan pulau.

Menurut Achris Sarwani, penyebaran pengunjung ke Bali yang lebih luas akan membantu memastikan lebih banyak daerah mendapatkan keuntungan ekonomi dari industri ini.

“Kita perlu pemerataan distribusi agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” kata Achris.

Masih harus dilihat apakah pendekatan “kualitas daripada kuantitas” di Bali dapat dilanjutkan. Namun untuk saat ini, angka terbaru di pulau ini menunjukkan bahwa lebih sedikit wisatawan tidak selalu berarti lebih sedikit uang.

Penafian: Meskipun segala upaya telah dilakukan untuk memastikan keakuratannya, artikel ini mungkin mengandung sedikit ketidakakuratan dalam nama, lokasi, atau detail acara. Pembaca dipersilakan menghubungi tim redaksi untuk klarifikasi lebih lanjut.