Home Opini Memanfaatkan Kekuatan Cerdas di Era AI(I)

Memanfaatkan Kekuatan Cerdas di Era AI(I)

2
0


Diplomasi telah lama menjadi instrumen penting untuk melakukan negosiasi dan mengelola hubungan, baik antar negara maupun antar aktor swasta, bahkan di Abad Pertengahan. Saat ini, diplomasi telah menjadi seni dasar komunikasi dan negosiasi antar negara, serta antara kelompok publik dan swasta. Di masa damai, hal ini berkontribusi pada konsolidasi stabilitas dan kerja sama; di masa perang, hal ini memainkan peran penting dalam mencegah eskalasi dan memfasilitasi pemulihan perdamaian.

Diplomasi secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk. Diplomasi negara mengatur urusan luar negeri resmi suatu negara; diplomasi publik memajukan kepentingan dan nilai-nilai kelompok publik dan swasta melalui keterlibatan dengan publik asing; dan diplomasi pribadi melayani kepentingan masing-masing penguasa, raja, atau penguasa otoriter. Namun, di era kecerdasan buatan (AI), peran diplomasi mengalami perubahan besar. Praktik diplomasi tradisional tidak lagi cukup di dunia yang telah bergerak cepat melampaui era digital dan memasuki era AI. Kecepatan penyebaran informasi dan kemajuan teknologi yang pesat telah menantang banyak fungsi diplomasi yang konvensional.

Pada awal abad ke-20, Profesor Harold Nicolson berpendapat bahwa keutamaan diplomasi yang paling mendasar adalah kejujuran dan kepercayaan. Meskipun kualitas-kualitas ini tetap penting, namun tidak cukup untuk memenuhi tuntutan diplomasi kontemporer.

Namun pertanyaannya adalah jenis diplomasi apa yang paling dibutuhkan Korea di era AI. Lingkungan internasional ditandai dengan ketidakpastian yang luar biasa. Tatanan dunia menjadi semakin terfragmentasi dan multipolar, tanpa pusat gravitasi efektif yang mampu menjaga stabilitas. Dengan kata lain, komunitas internasional tidak memiliki penjaga ketertiban yang operasional. Amerika Serikat sering kali menunjukkan kecenderungan intervensionisme yang mementingkan diri sendiri. Tiongkok terus mengejar visinya mengenai “Impian Tiongkok.” Tindakan Rusia telah menunjukkan kesediaannya untuk menggunakan kekuatan untuk perluasan wilayah. Sementara itu, NATO enggan terlibat dalam krisis keamanan di Timur Tengah. Dalam keadaan seperti itu, perdamaian bisa menjadi rentan terhadap konflik, mengingat kembali aspek-aspek era kekaisaran.

Mengingat kenyataan ini, Korea harus menempatkan prioritas tertinggi pada pengembangan diplomasi smart power. Pendekatan seperti ini akan memungkinkan negara tersebut untuk memajukan kepentingan nasionalnya, termasuk perdamaian dan keamanan di Semenanjung Korea, sembari beroperasi dalam tatanan internasional yang semakin rapuh dan tidak menentu. Diplomasi kekuatan cerdas bertumpu pada dua pilar yang saling melengkapi: kemampuan ekonomi, teknologi, AI dan budaya di satu sisi, dan kemampuan militer di sisi lain. Yang pertama menghasilkan soft power, sedangkan yang kedua menghasilkan hard power. Integrasi yang efektif dari kedua dimensi ini akan menciptakan sumber kekuatan nasional yang seimbang dan dapat diandalkan.

Soft power meningkatkan ketahanan internal, pengaruh internasional dan keberlanjutan jangka panjang, sementara hard power memberikan kemampuan material yang diperlukan untuk pencegahan dan pertahanan. Dengan menggabungkan kedua bentuk kekuatan tersebut, Korea dapat menerapkan strategi diplomasi yang lebih fleksibel dan otonom, yang tidak dibatasi oleh kerangka diplomasi digital, preseden sejarah, atau ketergantungan yang berlebihan pada satu negara besar.

Dua contoh penting dari penggunaan diplomasi kekuatan pintar yang efektif di Korea adalah pencapaian diplomat Seo Hui pada masa dinasti Goryeo (918–1392) dan Syngman Rhee pada pertengahan abad ke-20. Pada tahun 993, Seo Hui menggunakan keterampilan negosiasi dan persuasi strategis yang luar biasa untuk mendirikan enam benteng di sepanjang Sungai Yalu. Contoh serupa ditemukan dalam kepemimpinan mantan Presiden Syngman Rhee selama dan setelah Perang Korea dari tahun 1950 hingga 1953. Setelah Perang Korea, ia dengan terampil membujuk Presiden AS Dwight D. Eisenhower untuk berkomitmen terhadap keamanan Korea, dengan kedua negara menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Republik Korea–Amerika Serikat pada tahun 1953.

Kedua kasus ini menggambarkan bagaimana Korea berhasil memanfaatkan smart power, menggabungkan hard power yang terbatas dengan kontak yang cermat, persuasi, dan pengetahuan strategis.

Heo Mane, profesor emeritus di Universitas Nasional Pusan, adalah mantan presiden Masyarakat Korea untuk Studi Eropa Kontemporer. Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini tidak mewakili posisi editorial The Korea Times.