Home Opini Penelitian baru mengungkap polusi tersembunyi yang ditimbulkan oleh kembang api

Penelitian baru mengungkap polusi tersembunyi yang ditimbulkan oleh kembang api

4
0


Kembang api dapat memukau orang banyak dengan warnanya yang cemerlang dan ledakannya yang keras, namun penelitian baru menunjukkan bahwa efeknya terus berlanjut lama setelah pertunjukannya berakhir. Tiga penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal American Chemical Society (ACS) meneliti apa yang ditinggalkan oleh kembang api, mulai dari puing-puing yang terlepas dan partikel di udara hingga senyawa kimia yang dilepaskan ke atmosfer.

Hasilnya memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana kembang api dapat mempengaruhi kualitas udara, kandungan kimia air, dan potensi kesehatan manusia dan lingkungan.

Puing-puing petasan dapat mengubah kandungan kimia air

Begitu kembang api padam, mereka hanya meninggalkan abu. Petasan bekas menyebarkan residu yang mengandung bahan bakar yang terbakar sebagian, garam logam, bahan tambahan, dan potongan kemasan yang hangus.

Dalam sebuah penelitian laboratorium yang diterbitkan di Ilmu pengetahuan dan teknologi lingkunganPara peneliti menemukan bahwa puing-puing ini melepaskan sejumlah besar ion logam (misalnya kalium dan mangan) dan bahan organik terlarut (misalnya fenol sederhana dan senyawa yang mengandung belerang) ketika ditempatkan di air danau dan sungai. Pada saat yang sama, sisa padatan menyerap beberapa zat terlarut yang sudah ada di dalam air, termasuk senyawa yang lebih besar dan kompleks.

Menurut para peneliti, perubahan kimia ini dapat mengganggu komunitas mikroba dan ekosistem perairan, terutama jika limbah petasan dalam jumlah besar berulang kali dibuang ke sungai dan danau setelah festival atau perayaan. Pengumpulan dan pembuangan kembang api bekas dengan benar dapat membantu mengurangi dampak lingkungan ini.

Kembang api menambah polusi udara saat acara besar

Kembang api hanyalah salah satu sumber polusi selama perayaan publik yang besar, namun para peneliti ingin memahami seberapa besar kontribusinya dibandingkan dengan aktivitas lainnya.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di ACS ES&T Udarapara ilmuwan memantau partikel selama acara olahraga besar beberapa hari di Inggris. Mereka mendeteksi peningkatan partikel kasar dan halus di udara secara tiba-tiba dan berumur pendek sepanjang peristiwa tersebut.

Tim peneliti menghubungkan sebagian besar polusi dengan emisi memasak dari penjual makanan dan debu yang dibawa oleh kendaraan. Namun, selama upacara pembukaan dan penutupan, mereka mengamati dua puncak partikel halus yang berbeda. Yang pertama terjadi saat kerumunan orang berdatangan dan tingkat debu meningkat, sedangkan yang kedua, sedikit lebih kecil, bertepatan dengan pesta kembang api.

Para peneliti memperkirakan bahwa orang-orang yang menghadiri acara tersebut setiap hari terpapar pada tingkat polusi udara di atas batas yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hal ini menunjukkan bahwa perayaan besar dapat secara signifikan meningkatkan paparan terhadap partikel halus.

Kembang api melepaskan lebih dari sekedar asap ke udara

Studi lain berfokus pada bahan kimia yang disebut amina, yang termasuk dalam beberapa formulasi kembang api. Senyawa ini dapat bereaksi di atmosfer membentuk aerosol yang berkontribusi terhadap kabut asap dan menurunkan kualitas udara.

Untuk menentukan apa yang terjadi pada bahan kimia tersebut selama kembang api, para peneliti mengukur kandungan amina dalam gas dan partikel di udara selama perayaan Tahun Baru Imlek di pinggiran kota Tiongkok.

Hasilnya, dipublikasikan di Surat tentang ilmu pengetahuan dan teknologi lingkunganmengungkapkan peningkatan substansial dalam beberapa amina dibandingkan dengan periode tanpa perayaan. Peningkatan terbesar terjadi pada pertunjukan kembang api terbesar. Para ilmuwan juga mencatat tingkat polutan terkait kembang api lainnya yang lebih tinggi, termasuk partikel halus dan ion sulfat dan kalium.

Para peneliti mengatakan temuan ini menunjukkan bahwa kembang api berkontribusi lebih dari sekedar asap yang terlihat pada kabut yang sering tertinggal setelah perayaan besar, sehingga menambah lapisan dampak terhadap lingkungan.