Home Dunia Mengapa identitas arsitektur pulau ini lebih penting dari sebelumnya – Ekspatriat Indonesia

Mengapa identitas arsitektur pulau ini lebih penting dari sebelumnya – Ekspatriat Indonesia

5
0


Ada beberapa tempat di dunia yang arsitekturnya lebih dari sekadar desain bangunan.

Di Bali, arsitektur menceritakan sebuah kisah. Ini mencerminkan filosofi, spiritualitas, pengetahuan, dan hubungan intim selama berabad-abad dengan alam.

Setiap halaman pura, halaman desa, paviliun bambu, dan gerbang batu berukir menggambarkan sebuah pulau yang identitasnya telah terbentuk dari generasi ke generasi, bukan beberapa dekade. Meskipun demikian, ketika Bali mengalami salah satu booming real estat tercepat dalam sejarahnya, sebuah pertanyaan penting mulai muncul: Seperti apa Bali di masa depan?

Di sekitar pulau, vila-vila Mediterania yang elegan, rumah-rumah tropis kontemporer, interior Japandi, minimalis Skandinavia, pengaruh Maroko, loteng industri, arsitektur bambu, dan kawasan mewah kontemporer mengubah lanskap. Banyak dari desain ini yang menakjubkan dan tidak diragukan lagi telah membantu memposisikan Bali sebagai salah satu pasar real estat paling menarik di dunia. Namun, seiring dengan berkembangnya arsitektur, ada satu pertanyaan yang perlu kita perhatikan:

Bagaimana kita bisa terus membangun Bali modern tanpa perlahan-lahan kehilangan karakter yang membuat masyarakat jatuh cinta pada pulau tersebut?

Arsitektur lebih dari sekedar gaya

Berjalanlah melalui hampir semua kawasan berkembang di Bali saat ini dan satu gaya arsitektur akan segera menonjol. Dinding dilapisi warna putih. Lengkungan yang elegan. Interior minimalis. Nada bersahaja yang lembut. Bukaan kaca besar menghadap ke kolam renang tropis. Sederhananya, vila Mediterania telah menjadi gambaran yang menentukan booming real estat modern di Bali.

Ada alasan untuk ini.

Vila Mediterania ini elegan, abadi, sangat fotogenik, dan langsung dikenal oleh pembeli internasional. Pengembang memahami mengapa hal ini berhasil dan investor menghargai daya tarik globalnya. Tidak ada yang salah dengan arsitektur Mediterania. Begitu juga dengan pengaruh Jepang, Skandinavia, industri, Maroko, atau pengaruh internasional lainnya yang saat ini membentuk pasar real estat di Bali. Faktanya, keberagaman ini mencerminkan pertumbuhan posisi Bali sebagai destinasi internasional.

Tantangannya bukanlah memilih satu gaya dibandingkan gaya lainnya; tantangannya adalah memastikan bahwa semua yang kami bangun tetap terhubung dengan Bali. Karena arsitektur tidak hanya tentang bangunan. Arsitektur membentuk perasaan suatu tempat. Ini memberi tahu pengunjung di mana mereka berada.

Bayangkan bepergian ke Kyoto untuk menemukan deretan rumah di Miami Beach. Atau kunjungi Santorini, yang dipenuhi kabin kayu Skandinavia. Bangunan yang indah, mungkin. Namun terputus dari sejarah tempat itu.

Arsitektur menjadi bagian integral dari lanskap budaya. Setiap perkembangan baru memperkuat atau melemahkan identitas ini.

Bali sudah memiliki filosofi desain tersendiri

Jauh sebelum keberlanjutan menjadi populer, Bali telah mengembangkan filosofi canggih tentang bagaimana masyarakat harus hidup bersama alam. Gagasan tentang Tri Hita Karana mengajarkan bahwa kesejahteraan sejati datang dari menjaga keharmonisan di antara tiga hubungan:

  • Harmoni dengan Tuhan (Parhyangan);
  • Harmoni antar manusia (Pawongan);
  • Harmoni dengan alam (Palemahan).

Sungguh luar biasa betapa selarasnya filosofi yang telah berusia berabad-abad ini dengan apa yang disebut oleh para perencana modern sebagai pembangunan berkelanjutan. Rumah yang menghormati lanskap. Komunitas yang mendorong interaksi sosial. Bangunan yang ada selaras dengan lingkungannya, bukan mendominasinya.

Mungkin keberlanjutan bukanlah sesuatu yang perlu diimpor oleh Bali. Mungkin itu selalu ada.

Asta Kosala Kosali: prinsip abadi untuk kehidupan modern

Selain Tri Hita Karana juga ada Asta Kosala Kosalifilosofi arsitektur tradisional Bali. Sering dibandingkan dengan Feng Shui, Asta Kosala Kosali melangkah lebih jauh. Ini memperhitungkan orientasi, proporsi, iklim, energi alam, kehidupan keluarga, sirkulasi, sinar matahari, pola angin dan hubungan antara bangunan dan lingkungan.

Ini bukan soal meniru senyawa tradisional, batu demi batu; ini tentang memahami kebijaksanaan di baliknya. Arsitektur modern benar-benar dapat merangkul material kontemporer, teknologi cerdas, dan teknik inovatif dengan tetap menghormati prinsip-prinsip ini. Hasilnya adalah arsitektur Bali yang modern, mewah dan khas.

Asta Kosala Kosali

Munculnya vila global

Pasar real estat saat ini semakin dipengaruhi oleh Instagram, Pinterest, dan majalah gaya hidup internasional. Pengembang secara alami merespons apa yang diinginkan pembeli. Alhasil, banyak vila yang dibangun berseberangan Canggu, Uluwatu, Tabanandan bagian lain pulau ini bisa saja berada di Spanyol selatan, Portugal, Meksiko, atau Dubai.

Arsitektur global menjadi sangat mudah dipindahtangankan. Sebaliknya, identitas lokal tidak. Ironisnya, seiring dengan semakin terhubungnya dunia, keaslian menjadi semakin berharga.

Keberlanjutan tidak terbatas pada panel surya saja

Banyak proyek dengan bangga menyatakan proyek mereka ramah lingkungan, dan terkadang hal itu berarti menambahkan panel surya atau kayu daur ulang.

Namun, keberlanjutan yang sebenarnya dimulai jauh lebih awal. Hormati pohon dewasa. Bekerjalah sesuai kontur medan, bukan meratakannya. Gunakan batu dan kayu yang bersumber secara lokal jika memungkinkan. Mendukung pengrajin dan perajin Bali. Maksimalkan aliran udara alami sebelum mengandalkan AC. Penciptaan taman tropis dari spesies asli. Kurangi beton yang tidak perlu. Membangun rumah yang menua dengan anggun, bukan sekadar memotret dengan baik.

Keberlanjutan bukan hanya tentang pengurangan karbon; ini tentang menghormati tempat itu.

Pembeli generasi baru

Menariknya, pembeli saat ini juga terus berkembang. Banyak yang tidak lagi menginginkan sebuah vila yang bisa ada dimanapun di dunia. Sebaliknya, yang mereka inginkan adalah keaslian. Keahlian. Koneksi yang lebih dalam dengan Bali.

Selain itu, pembeli semakin menghargai batu alam, kayu reklamasi, bambu, seni lokal, lanskap tropis, dan arsitektur yang merespons iklim dan budaya pulau tersebut. Oleh karena itu, keaslian itu sendiri telah menjadi sebuah kemewahan.

Desain yang bagus adalah bisnis yang bagus

Terkadang terdapat kesalahpahaman bahwa melestarikan identitas Bali membatasi pembangunan. Faktanya, yang terjadi justru sebaliknya.

Alasan utama mengapa Bali memiliki nilai real estate kelas atas, menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya, dan tetap menjadi salah satu destinasi paling dicari di dunia bukan karena Bali memiliki vila-vila mewah. Lagipula, banyak destinasi tropis yang memiliki vila mewah.

Orang memilih Bali karena pulau ini menawarkan sesuatu yang tidak dapat mereka temukan di tempat lain. Budayanya yang hidup. Upacaranya. Desa-desanya. Pengetahuannya. Spiritualitasnya. Bentang alamnya. Penghuninya. Hal-hal ini bukanlah hambatan bagi investasi; mereka merupakan fondasi utama perekonomian Bali.

Pembangunan yang menggabungkan material lokal, desain tropis yang cermat, Tri Hita Karana, dan prinsip Asta Kosala Kosali lebih dari sekadar melestarikan warisan budaya. Perkembangan seperti ini membantu menjaga nilai jangka panjang dari setiap investasi yang dilakukan di pulau ini. Kebudayaan bukanlah kebalikan dari pembangunan ekonomi; sebaliknya, budaya merupakan salah satu keunggulan kompetitif terbesarnya.

Membangun Bali, bukan sekedar membangun di Bali

Setiap vila, hotel butik, restoran, dan lingkungan berkontribusi terhadap kisah Bali untuk generasi mendatang. Oleh karena itu, pengembangan real estat bukan sekadar persoalan laba atas investasi; ini tentang membentuk identitas pulau tersebut.

Proyek yang paling sukses di masa depan mungkin bukan proyek yang sekadar mengikuti tren internasional terkini. Mungkin merekalah yang berhasil memadukan teknik modern, tanggung jawab terhadap lingkungan, dan kearifan Bali yang tak lekang oleh waktu. ‘Kemewahan‘ tidak selalu berarti ‘diimpor’. “Modern” tidak berarti “generik”. “Berkelanjutan” tidak selalu berarti “rumit.”

Bali sudah memberi kami rencananya. Tanggung jawab kita hanyalah menafsirkannya untuk generasi berikutnya. Karena pada akhirnya, kemewahan terbesar Bali bukanlah marmer impor, desain trendi, atau estetika media sosial terkini. Kemewahan terbesar di Bali adalah Bali itu sendiri.

Sebagai arsitek, pengembang, investor, pembuat kebijakan, dan pemilik, tanggung jawab terbesar kita bukan sekadar membangun Di dalam Bali. Tanggung jawab terbesar kami adalah terus membangun Bali.

Jika Anda mempertimbangkan untuk berinvestasipindah atau mendirikan bisnis perumahan atau pariwisata di Bali, kami akan dengan senang hati membantu Anda merencanakan langkah yang tepat. Kontak Tujuh Batu Indonesia melalui email ke halo@sevenstonesindonesia.com untuk informasi yang disesuaikan dengan visi Anda.