Seorang warga negara AS berusia 21 tahun yang belajar di Haredi yeshiva di Yerusalem telah didakwa melakukan mata-mata untuk Iran setelah diduga melakukan serangkaian tugas pengumpulan intelijen dengan imbalan pembayaran mata uang kripto, media Israel melaporkan.
Times of Israel melaporkan bahwa Eli Levon, seorang mahasiswa di Mir yeshiva, didakwa menghubungi agen asing dan memberikan informasi yang dapat menguntungkan musuh.
Jaksa mengatakan dia berkomunikasi dengan dua akun Telegram yang diyakini terkait dengan badan intelijen Iran.
Dia dituduh menerima hampir $1.400 dalam mata uang kripto karena memotret situs-situs termasuk stasiun bus pusat Yerusalem, menyembunyikan drive USB yang dibungkus dengan uang kertas 50 shekel di sebuah restoran, dan meninggalkan kotak rokok berisi catatan yang mengatakan “pekerjaan telah selesai” di sebuah pusat perbelanjaan.
Dakwaan tersebut menyatakan bahwa Levon menjalankan misi tersebut meskipun memiliki “alasan yang masuk akal” untuk meyakini bahwa akun tersebut dikelola oleh badan intelijen Iran, menurut laporan TOI.
Jaksa mengatakan dia menolak permintaan untuk memberikan daftar teman-teman siswa yeshiva-nya. Dia ditangkap pada 9 Juni.






















