Saya telah menonton Eurovision setiap tahun selama hampir 20 tahun. Tahun ini seharusnya menandai ulang tahun ke 15 saya mengadakan pesta.
Saya sangat menyukainya, tanpa ironi. Saya menyukainya karena lagu dan suaranya, namun saya juga sangat menganut nilai-nilai dasarnya: gagasan bahwa sebuah benua yang masih dilanda dua perang dunia dapat bersatu melalui apresiasi musik yang sama.
Tahun ini, alih-alih merencanakan pesta, saya tidak bisa mengabaikan cerita yang kini mendominasi kompetisi.
Eurovision lahir pada tahun 1956 dari luka tertentu: Eropa baru saja selesai menghancurkan dirinya sendiri. European Broadcasting Union (EBU) menciptakan kompetisi ini sebagai sebuah tindakan keyakinan yang hampir naif: keyakinan bahwa budaya dapat melakukan apa yang gagal dilakukan oleh politik, dengan membangun sesuatu yang terasa benar-benar kontinental dan dapat dinikmati bersama.
Selama hampir tujuh dekade, keyakinan ini bertahan. Negara ini selamat dari Perang Dingin, krisis Balkan, dan Brexit. Persaingan berakhir, namun tidak pernah gagal.






















