Home Opini Kain emas legendaris yang hilang selama 2.000 tahun telah kembali

Kain emas legendaris yang hilang selama 2.000 tahun telah kembali

6
0


Selama berabad-abad, kain emas berkilauan yang dikenal sebagai sutra laut adalah salah satu bahan mewah paling eksklusif di dunia, diperuntukkan bagi kaisar, paus, dan tokoh berkuasa lainnya. Kini, para peneliti Korea Selatan telah berhasil menciptakan kembali serat legendaris ini dan menemukan rahasia warnanya yang menakjubkan.

Sebuah tim yang dipimpin oleh Profesor Dong Soo Hwang (Divisi Ilmu dan Teknik Lingkungan/Divisi Interdisipliner Biosains dan Bioteknologi, POSTECH) dan Profesor Jimin Choi (Institut Penelitian Lingkungan) menciptakan kembali serat emas yang mirip dengan sutra laut menggunakan cangkang bulu (Atrina pectinata), kerang yang tumbuh di perairan pesisir Korea. Temuan mereka, dipublikasikan di Materi tingkat lanjuttidak hanya menghidupkan kembali tekstil lama tetapi juga menjelaskan mengapa tampilan emasnya tetap cerah seiring berjalannya waktu.

Naik turunnya sutra laut yang legendaris

Sering disebut “serat emas laut”, sutra laut sangat dihargai pada zaman Romawi. Bahannya terbuat dari benang byssus yang diproduksi oleh Pinna bangsawankerang Mediterania berukuran besar yang menggunakan serat ini untuk menempel pada permukaan berbatu.

Sutra laut menjadi terkenal karena warna emasnya yang berkilauan, ringan, dan daya tahannya yang luar biasa. Kelangkaan dan keindahannya membuatnya mendapatkan reputasi yang nyaris mistis. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah Wajah Suci Manoppello, peninggalan keagamaan yang disimpan di Italia selama berabad-abad dan konon terbuat dari sutra laut.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, polusi laut dan penurunan kualitas lingkungan hidup semakin meningkat Pinna bangsawan menuju kepunahan. Spesies ini sekarang terancam punah dan Uni Eropa telah sepenuhnya melarang pemanenannya. Akibatnya, sutra laut asli menjadi sangat langka dan hanya diproduksi dalam jumlah kecil oleh sejumlah kecil perajin.

Menciptakan kembali serat kuno

Untuk mencari sumber alternatif, peneliti POSTECH mempelajari cangkang pena Pektinasi Atrinayang sudah dibudidayakan untuk makanan di perairan Korea.

Sebagai Pinna bangsawancangkang pena menghasilkan benang byssus yang membantunya menempel pada permukaan. Tim menemukan bahwa serat ini sangat mirip dengan serat kerang Mediterania, baik secara fisik maupun kimia. Dengan menggunakan kesamaan ini sebagai titik awal, mereka mengembangkan metode mengubah cangkang bulu byssus menjadi bahan yang menyerupai sutra laut kuno.

Namun menciptakan kembali serat hanyalah sebagian dari prestasi tersebut.

Rahasia di balik kilau emas Sea Silk

Para peneliti juga menemukan mekanisme yang bertanggung jawab atas warna emas khas sutera laut dan ketahanannya yang luar biasa terhadap pemudaran.

Daripada berasal dari pewarna, warna diciptakan melalui pewarnaan struktural, sebuah fenomena di mana struktur mikroskopis berinteraksi dengan cahaya untuk menghasilkan warna. Tim menemukan bahwa penampakan warna-warni sutra laut berasal dari struktur protein bulat berlapis yang dikenal sebagai “fotonin.”

Struktur ini memantulkan dan memanipulasi cahaya dengan cara yang sama seperti gelembung sabun atau sayap kupu-kupu menciptakan warna-warna cerah. Karena efeknya dihasilkan oleh struktur bahan dan bukan oleh penambahan pigmen, warnanya tetap sangat stabil dalam jangka waktu yang lama.

Para peneliti juga menemukan bahwa semakin terorganisir protein-protein ini, semakin kuat dan cerah warnanya. Tidak seperti tekstil konvensional, yang warnanya diaplikasikan melalui pewarnaan, sutera laut menghasilkan rona emas dari susunan protein di dalam serat itu sendiri. Hal ini membantu menjelaskan bagaimana bahan tersebut dapat mempertahankan kilaunya selama berabad-abad.

Tekstil berkelanjutan dari limbah laut

Pekerjaan ini bisa mempunyai implikasi lebih dari sekadar menciptakan kembali kain mewah bersejarah.

Serat byssus dari cangkang kandang biasanya dibuang sebagai limbah. Dengan mengubahnya menjadi tekstil yang berharga, para peneliti telah menunjukkan cara untuk mengurangi limbah laut sekaligus menciptakan bahan berkelanjutan yang memiliki makna budaya dan sejarah.

Profesor Dong Soo Hwang menyatakan: “Tekstil yang diwarnai secara struktural pada dasarnya tahan terhadap pemudaran. Teknologi kami memungkinkan warna yang tahan lama tanpa menggunakan pewarna atau logam, membuka kemungkinan baru bagi fesyen berkelanjutan dan material canggih.”