Kenneth Barish, Ph.D., profesor psikologi klinis di Weill Cornell Medicine, mengatakan penurunan keterlibatan keluarga besar telah membantu memicu apa yang digambarkan oleh Surgeon General AS sebagai krisis kesehatan mental anak dan remaja yang sedang berlangsung.
“Kita belum berevolusi untuk membesarkan anak-anak kita dengan dukungan keluarga besar dan komunitas yang sedikit seperti yang dimiliki kebanyakan orang tua di Amerika saat ini,” kata Dr. Barish, anggota American Psychological Association. “Anak-anak membutuhkan kakek dan nenek, dan mereka selalu membutuhkannya.”
Dalam buku barunya, Seni dan Ilmu Mengasuh Anak dan Menjadi KakekDr. Barish memanfaatkan pengalaman klinis selama 40 tahun, serta temuan dari ilmu saraf, studi perkembangan anak, dan program pendidikan, untuk berpendapat bahwa kakek-nenek dapat memainkan peran penting dalam membantu keluarga menghadapi tantangan pengasuhan anak saat ini.
Mengapa tujuan penting untuk kesejahteraan anak-anak
Barish mengatakan kakek-nenek dapat membantu melawan tren budaya yang semakin menekankan pencapaian individu dibandingkan komunitas dan hubungan.
“Selama beberapa dekade, Amerika semakin menjadi masyarakat Saya, bukan Kita. Di banyak keluarga dan komunitas, keasyikan dengan pencapaian individu telah mengikis nilai-nilai kebaikan dan kepedulian dalam kehidupan anak-anak kita,” jelasnya.
Penelitian telah mengaitkan tekanan kuat untuk sukses dengan tingginya tingkat kecemasan, depresi, dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang, khususnya di masyarakat kaya. Dr Barish berpendapat bahwa anak-anak membutuhkan tujuan yang lebih kuat yang melampaui pencapaian pribadi.
“Pencapaian individu saja merupakan sumber motivasi dan upaya yang rapuh, yang menimbulkan banyak kerugian berupa kecemasan dan stres,” tulis Dr. Barish. “Membantu orang lain meningkatkan keseimbangan dalam kehidupan emosional anak-anak.”
Bukti yang ditinjau oleh psikolog Jane Piliavin menemukan bahwa membantu orang lain dikaitkan dengan harga diri yang lebih tinggi, tingkat depresi yang lebih rendah, penurunan angka putus sekolah, peningkatan fungsi kekebalan tubuh dan bahkan harapan hidup yang lebih lama.
Untuk mendorong manfaat ini, Dr. Barish merekomendasikan menjadi sukarelawan sebagai sebuah keluarga dan berbicara secara teratur dengan anak-anak, mulai dari usia muda, tentang kebaikan, empati, dan memahami perasaan dan kebutuhan orang lain.
Dia menjelaskan: “Percakapan ini memperkuat makna dan tujuan anak. Hal ini sama pentingnya dengan memastikan anak-anak telah menyelesaikan pekerjaan rumah mereka dan memperbaiki kesalahan mereka, mungkin lebih dari itu.
Bagaimana kakek dan nenek mendukung kesehatan mental anak
Barish mengatakan kakek-nenek menawarkan lebih dari sekedar dukungan praktis kepada orang tua. Mereka juga memberikan apa yang dia gambarkan sebagai “molekul kesehatan emosional”, momen kecil namun bermakna yang memberikan dorongan, perhatian, dan pemahaman yang membantu memperkuat “sistem kekebalan emosional” anak-anak.
“Harapan penuh kepercayaan seorang anak bahwa seseorang akan mendengarkannya dan memahaminya adalah perlindungan terbaik terhadap patogen emosional yang akan ia alami sepanjang masa kanak-kanaknya. “Lebih dari segalanya, anak-anak membutuhkan seseorang dalam hidup mereka yang mendengarkan mereka, yang membantu mereka merasa tidak terlalu sendirian, dan yang mengajarkan mereka bahwa masalah dapat diselesaikan, hubungan dapat diperbaiki, dan perasaan buruk tidak bertahan selamanya,” kata Dr. Barish.
Hal ini juga menekankan pentingnya bermain, berbagi kesenangan, dan menunjukkan antusiasme yang tulus terhadap minat dan tujuan anak. Interaksi positif ini dapat membantu membangun ketahanan emosional dan memperkuat hubungan keluarga.
Kejahatan tersembunyi dari kritik berlebihan
Salah satu tantangan paling umum dalam mengasuh anak yang dihadapi Dr. Barish bukanlah terlalu banyak pujian, namun terlalu banyak kritik.
Dalam penelitian klinisnya, ia menemukan bahwa anggota keluarga yang bermaksud baik sering kali meremehkan dampak negatif dari seringnya dikritik.
“Masalah paling umum yang saya lihat dalam pekerjaan saya dengan keluarga bukanlah terlalu banyak pujian, namun terlalu banyak kritik,” kata Dr. Barish.
“Kritik tidak memotivasi anak untuk bekerja lebih keras. Sebaliknya, kritik yang sering menimbulkan kebencian dan tantangan, serta melemahkan inisiatif dan upaya anak.”
Pada saat yang sama, ia mencatat bahwa tidak semua pujian sama bermanfaatnya. Dengan mengacu pada konsep “pola pikir berkembang” Carol Dweck, hal ini mendorong orang dewasa untuk memfokuskan pujian mereka pada upaya dan pembelajaran daripada kemampuan bawaan.
“Puji usaha, bukan kecerdasan atau bakat. Puji pembelajaran, bukan nilai.”
Membangun Kepercayaan Melalui Percakapan
Dr. Barish mengakui bahwa membesarkan anak sering kali melibatkan pengelolaan perilaku yang sulit. Dalam bukunya, ia menguraikan 21 prinsip yang dimaksudkan untuk mendorong kerja sama, berdasarkan penelitian ilmiah dan pengalaman klinis selama puluhan tahun.
Salah satu rekomendasinya adalah melibatkan anak-anak dalam pemecahan masalah secara kolaboratif dan memberi mereka kesempatan untuk “mengatur ulang”, sebuah pendekatan yang menurutnya lebih efektif daripada hukuman.
Pada akhirnya, Dr. Barish berargumentasi bahwa membantu anak-anak berkembang bukanlah sekedar mengajarkan keterampilan khusus, namun lebih pada membina kekuatan emosional, kepercayaan diri, dan hubungan yang bermakna.
Barish menjelaskan, “Membantu anak-anak dan cucu-cucu kita sukses dalam hidup bukan hanya sekedar mengajar, tapi lebih banyak sekedar berbincang-bincang; lebih sedikit lagi tentang mendapatkan imbalan dan lebih banyak lagi tentang belajar mengatasi perasaan yang menyakitkan;






















