Home Opini Menteri Pertahanan akan mengusulkan tahun target transfer OPCON masa perang pada pertemuan...

Menteri Pertahanan akan mengusulkan tahun target transfer OPCON masa perang pada pertemuan akhir tahun

4
0


Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back berbicara pada konferensi pers di markas besar Kementerian Pertahanan di Seoul pada hari Rabu. Yonhap

Target tahun dimulainya kembali kendali operasional masa perang (OPCON) Korea dari Amerika Serikat akan diusulkan kepada presiden kedua negara pada akhir tahun ini, kata kepala pertahanan Seoul pada hari Minggu.

Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi KBS, ketika pemerintahan Presiden Lee Jae Myung berusaha menyelesaikan transfer tersebut selama masa jabatan Lee, yang berakhir pada tahun 2030.

“Pembahasan mengenai verifikasi kemampuan operasional penuh (FOC) akan dilakukan dengan Menteri Pertahanan AS pada Pertemuan Penasihat Keamanan pada bulan November dan berdasarkan hal tersebut, proposal akan diajukan kepada kedua presiden,” kata Ahn. “Kemudian tahun dimulainya kembali OPCON pada masa perang akan ditentukan.”

Sekutu sedang memverifikasi FOC – bagian kedua dari program tiga fase yang bertujuan untuk memverifikasi kemampuan Seoul dalam memimpin pasukan gabungan sekutu.

Korea menyerahkan kendali operasional pasukannya kepada komando PBB yang dipimpin AS selama Perang Korea dari tahun 1950 hingga 1953. Komando tersebut kemudian dipindahkan ke Komando Pasukan Gabungan Sekutu ketika diluncurkan pada tahun 1978.

Korea mengambil alih OPCON pada masa damai pada tahun 1994, namun Amerika Serikat masih mempertahankan kendali atas pasukan Korea jika terjadi perang.

Ditanya tentang kemungkinan perbedaan antara sekutu mengenai jadwal transfer, Ahn mengatakan mungkin ada perbedaan pendapat.

“Bahkan pasangan suami-istri mempunyai pendapat yang berbeda, jadi bagaimana negara-negara bisa mempunyai pendapat yang sama mengenai isu OPCON selama masa perang,” katanya, seraya menambahkan bahwa komunikasi yang erat antara sekutu sedang dilakukan untuk mempersempit perbedaan-perbedaan ini.

Sementara itu, Ahn mengatakan Korea sedang menjalankan proyek kapal selam bertenaga nuklirnya, dan mencatat bahwa negara tersebut memiliki semua persyaratan untuk membangunnya kecuali bahan bakar nuklir.

“Kami tidak memiliki bahan bakar nuklir, namun kami mencari kerja sama dan dukungan dari Amerika Serikat untuk pengayaan uranium yang rendah hingga kurang dari 20 persen,” katanya.

Ketika ditanya apakah kesepakatan telah dicapai antara Seoul dan Washington untuk membangun kapal selam di Korea, Ahn mengatakan sekutunya belum mencapai kesepakatan tersebut, namun mencatat bahwa Seoul selalu mempertahankan kebutuhan untuk membangun kapal semacam itu di dalam negeri.