Home Opini Goethe tidak tahu bahwa semut berusia 40 juta tahun ini disembunyikan dalam...

Goethe tidak tahu bahwa semut berusia 40 juta tahun ini disembunyikan dalam koleksinya

3
0


Para ilmuwan telah menemukan fosil serangga yang tersembunyi di dalam potongan damar milik penulis terkenal Jerman Johann Wolfgang von Goethe. Dengan menggunakan teknologi pencitraan canggih, para peneliti mampu mengungkap makhluk-makhluk yang tetap terperangkap dalam fosil resin pohon selama puluhan juta tahun.

Koleksi amber Goethe yang kini disimpan di Goethe State Museum dan dikelola oleh Klassik Stiftung Weimar, berisi 40 buah ambar Baltik. Dua spesimen tersebut berisi fosil hewan yang hampir mustahil dilihat dengan mata telanjang karena potongan ambarnya tidak pernah dipoles.

Untuk melanjutkan penelitian mereka, para peneliti di Universitas Jena beralih ke teknik pemindaian modern. Di German Electronic Synchrotron (DESY) di Hamburg, mereka menggunakan synchrotron computerized tomography untuk membuat gambar tiga dimensi yang detail dari fosil tersebut. Pemindaian menunjukkan tiga serangga: agas jamur, lalat hitam, dan semut purba.

Semut purba mengungkap detail baru

Di antara penemuan-penemuan tersebut, semutlah yang paling menarik perhatian.

“Semut itu termasuk spesies yang punah †Ctenobethylus goepperti (Mayr, 1868), sangat umum ditemukan pada damar,” jelas Bernhard Bock dari Museum Phyletisches di Universitas Jena. “Berkat pelestarian yang sangat baik dan penelitian ekstensif, kami dapat mendeskripsikannya lebih detail dari sebelumnya dan memperoleh informasi baru tentang spesies dan hubungannya.”

Berkat pelestarian spesimen yang luar biasa, para ilmuwan dapat memeriksa fitur-fitur yang belum pernah didokumentasikan secara rinci. Pemindaian tersebut mengungkapkan bulu-bulu halus pada semut pekerja dan bahkan memungkinkan peneliti untuk memvisualisasikan struktur kerangka internal kepala dan dada. Pengamatan ini memberikan informasi baru yang berharga mengenai anatomi dan evolusi spesies.

Tim peneliti juga menghasilkan rekonstruksi digital lengkap dari fosil tersebut.

“Kami memproses spesimen secara menyeluruh dan, berdasarkan informasi yang baru diperoleh, membuat rekonstruksi 3D yang tersedia secara online,” jelas Daniel Tröger dari Universitas Jena. “Model ini membantu rekan-rekan kami di seluruh dunia mengidentifikasi dan membandingkan fosil lain dari spesies ini.”

Perbandingan dengan genus semut modern Liometopumditemukan saat ini di Amerika Utara dan wilayah Eropa yang lebih hangat, memberikan petunjuk tentang bagaimana spesies yang punah bisa hidup. Para peneliti berpendapat semut purba kemungkinan besar membangun sarang besar di pohon, yang bisa menjelaskan mengapa mereka sering terawetkan dalam damar.

Hubungan Goethe dengan Amber

Meskipun Goethe memiliki spesimen amber, ia menunjukkan sedikit ketertarikan terhadap ambar itu sendiri selain sifat optiknya. Dia bahkan membuat lensa dari resin fosil untuk mempelajari efek warna sebagai bagian dari karyanya tentang teori warna.

Pada masa Goethe, para ilmuwan sudah mulai mempelajari ambar dan fosil-fosil yang terawetkan di sana. Publikasi ilmiah pertama mengenai subjek tersebut tersedia di perpustakaan pribadinya. Namun, signifikansi ilmiah yang lebih luas dari fosil-fosil ini belum menjadi jelas, dan penemuan-penemuan yang dilakukan saat ini jauh melebihi apa yang dapat dibayangkan oleh para peneliti pada saat itu.

“Goethe dianggap sebagai pendiri morfologi dan mungkin akan senang melihat bagaimana kami dapat memperoleh pengetahuan berharga di bidang ini melalui metode yang benar-benar baru,” jelas Bernhard Bock. “Pada saat yang sama, hasilnya menunjukkan nilai dari koleksi sejarah tersebut. Sungguh menakjubkan bahwa sebuah benda dari tangan dan zamannya, ketika ilmu pengetahuan ini baru saja dimulai, masih dapat memperkaya kita hingga saat ini.”

Hasilnya menunjukkan bagaimana koleksi museum yang dikumpulkan berabad-abad lalu dapat terus menghasilkan penemuan ilmiah yang penting. Berkat teknik pencitraan modern, objek-objek yang tadinya tampak biasa-biasa saja masih bisa mengungkap cerita tersembunyi dari masa lalu Bumi.