Ketika Piala Dunia FIFA 2026 dimulai di Amerika Utara, saya bertanya pada diri sendiri pertanyaan yang telah ditanyakan jutaan penggemar sepak bola Afrika selama beberapa dekade: bisakah sebuah negara Afrika akhirnya memenangkan Piala Dunia?
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Afrika akan memiliki 10 wakil di turnamen sepak bola terbesar tersebut. Aljazair, Tanjung Verde, Pantai Gading, Kongo, Mesir, Ghana, Maroko, Senegal, Afrika Selatan dan Tunisia akan mewujudkan impian lebih dari satu miliar orang di seluruh benua.
Ketika saya melihat daftar ini, saya melihat lebih dari sekedar tim sepak bola. Saya melihat perjuangan, kemajuan, patah hati, dan harapan selama puluhan tahun.
Saya membayangkan Mesir menjadi negara Afrika pertama yang berpartisipasi dalam Piala Dunia pada tahun 1934. Saya memikirkan tahun-tahun ketika Afrika hanya memiliki satu wakil dan sering diperlakukan sebagai pihak luar dalam pertandingan global. Saya memikirkan Kamerun yang mengejutkan dunia pada tahun 1990, Senegal yang mengalahkan juara bertahan Prancis pada tahun 2002, dan Ghana yang nyaris lolos ke semifinal pada tahun 2010.
Saya juga ingat rasa sakitnya.
Momen kontroversial. Penalti yang gagal. Kekalahan tipis. Perasaan bahwa Afrika selalu dekat tetapi tidak pernah cukup dekat.
Lalu tibalah Qatar 2022.
Saya melihat Maroko mencapai sesuatu yang belum pernah dilakukan negara Afrika sebelumnya. Atlas Lions mengalahkan Belgia, Spanyol dan Portugal untuk mencapai semifinal. Untuk pertama kalinya, saya merasa bahwa hal yang mustahil sepertinya tidak lagi mustahil.
Maroko telah mengubah pembicaraan.
Sebelum Qatar, banyak yang menyebut tim-tim Afrika sebagai underdog. Setelah Qatar, kami mulai membicarakan tim-tim Afrika sebagai pesaing sesungguhnya.
Inilah mengapa menurut saya Piala Dunia 2026 bisa menjadi turnamen yang mengubah segalanya.
Dengan 10 tim yang berkompetisi, Afrika belum pernah tampil seperti ini di Piala Dunia. Benua ini memiliki peluang yang lebih besar dari sebelumnya untuk menghasilkan seorang juara.
Namun jika saya harus memilih dua negara Afrika yang paling mampu mengangkat trofi, pilihan saya adalah Senegal dan Maroko.
Maroko tetap menjadi kisah sepakbola Afrika yang paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir. Kesuksesan mereka di Qatar tidak didasarkan pada keberuntungan. Itu dibangun di atas organisasi, disiplin, kecerdasan taktis, dan keyakinan.
Banyak pemain yang mencapai semifinal masih berada di puncak karirnya. Mereka memahami apa yang diperlukan untuk bersaing dengan negara-negara elit dunia. Lebih penting lagi, mereka tidak lagi takut pada mereka.
Atlas Lions telah melewati penghalang. Memenangkan Piala Dunia akan menjadi langkah selanjutnya.
Senegal adalah favorit saya yang lain.
Teranga Lions memiliki sesuatu yang dibutuhkan setiap tim sukses di Piala Dunia: pengalaman, kekuatan fisik, pemain berkualitas, dan mentalitas pemenang.
Selama dekade terakhir, Senegal secara konsisten tetap menjadi salah satu tim terkuat di Afrika. Mereka telah menjuarai Piala Afrika, mengikuti beberapa Piala Dunia dan terus melahirkan pemain-pemain yang tampil di level tertinggi di Eropa.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, tim Senegal ini tahu cara mengatasi tekanan. Mereka tahu bagaimana memenangkan pertandingan yang sulit. Mereka tahu bagaimana menderita dan bertahan ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan mereka.
Pengalaman ini terbukti penting dalam turnamen yang menuntut seperti Piala Dunia.
Tentu saja memenangkan persaingan tidak akan mudah.
Kekuatan-kekuatan tradisional seperti Brazil, Argentina, Perancis, Jerman, Spanyol dan Inggris akan datang dengan ambisi yang sama. Sejarah tetap berpihak pada mereka.
Tidak ada negara Afrika yang pernah mencapai final Piala Dunia, apalagi memenangkannya.
Namun sejarah bukanlah hukum alam.
Setiap rekor ada sampai seseorang memecahkannya.
Selama bertahun-tahun dikatakan bahwa tim Afrika tidak akan pernah bisa mencapai semifinal. Maroko membuktikan bahwa mereka salah.
Saat ini, mereka mengatakan bahwa tim Afrika tidak bisa memenangkan Piala Dunia.
Mungkin mereka benar.
Namun mungkin pendapat tersebut hanya benar sampai ada yang membuktikan sebaliknya.
Saat saya bersiap menyaksikan Piala Dunia 2026 berlangsung, saya tidak bisa mengabaikan perasaan bahwa sepak bola Afrika sedang memasuki era baru. Dari satu-satunya penampilan Mesir pada tahun 1934 hingga 10 wakil pada tahun 2026, perjalanannya sungguh luar biasa.
Jumlahnya meningkat.
Kualitasnya meningkat.
Keyakinannya lebih kuat dari sebelumnya.
Dan jika Afrika akhirnya menghasilkan pemenang Piala Dunia, saya pikir Maroko dan Senegal menawarkan peluang terbaik bagi benua ini untuk membuat sejarah.






















