Home Olahraga Tiga hal yang kita pelajari dari comeback Jepang melawan Belanda

Tiga hal yang kita pelajari dari comeback Jepang melawan Belanda

4
0


Jepang menunjukkan mengapa banyak penggemar menganggap mereka sebagai salah satu kuda hitam Piala Dunia FIFA 2026 setelah berjuang dua kali untuk mendapatkan hasil imbang 2-2 melawan Belanda di Dallas.

Samurai Biru pantang menyerah dan meninggalkan pertandingan dengan membawa satu poin berharga. Berikut tiga hal yang kami pelajari dari permainan ini.

1. Jepang mempunyai karakter untuk melangkah jauh

Jepang tertinggal dua kali tetapi tidak pernah kehilangan kepercayaan diri.

Usai Virgil van Dijk membuka skor untuk Belanda, Keito Nakamura dengan cepat menyamakan kedudukan. Ketika Crysencio Summerville mengembalikan keunggulan Belanda, Jepang terus menyerang dan dibalas dengan gol penyeimbang di menit-menit akhir dari Daichi Kamada.

Tekad, energi, dan semangat juang mereka menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi tim tangguh bagi lawan mana pun di turnamen ini.

2. Belanda harus menjawab pertanyaan defensif

Belanda menciptakan peluang dan mencetak dua gol bagus, namun mereka kesulitan menjaga kendali Jepang.

Pelatih Ronald Koeman khawatir timnya gagal mempertahankan keunggulan mereka dalam dua kesempatan. Meski sempat unggul 2-1, Belanda terlihat tidak nyaman karena Jepang terus melaju.

Jika ingin menantang Piala Dunia, mereka harus lebih solid dalam bertahan.

3. Kamada bisa menjadi pemain besar di Jepang

Kamada menepati janjinya ketika negaranya sangat membutuhkannya.

Gelandang Crystal Palace tetap waspada di fase akhir pertandingan untuk mengarahkan upaya Koki Ogawa ke gawang dan menyelamatkan satu poin. Selain mencetak gol, dia adalah salah satu pemain paling berpengaruh di lini serang Jepang.

Jika Kamada terus menghasilkan momen seperti ini, ia bisa menjadi salah satu pemain kunci Jepang selama turnamen berlangsung.

Suatu hal yang mungkin terbukti penting

Sementara Belanda akan merasa kehilangan dua poin, Jepang akan meninggalkan Dallas dengan percaya diri. Kembalinya dua kali melawan salah satu tim terkuat Eropa mengirimkan pesan jelas ke seluruh Grup F: Jepang tidak berada di Piala Dunia hanya untuk bersaing, mereka ada di sini untuk menantang.