Rekor hat-trick Lionel Messi di Piala Dunia seharusnya menjadi topik pembicaraan utama saat Argentina menang 3-0 atas Aljazair, namun sebagian besar perbincangan pasca pertandingan terfokus pada tantangan kontroversial yang diyakini banyak orang memerlukan kartu merah.
Pemain berusia 38 tahun itu kembali menghasilkan kelas master Piala Dunia, mencetak ketiga gol saat Argentina membuka kampanye Piala Dunia FIFA 2026 mereka dengan kemenangan yang meyakinkan. Hat-trick tersebut membuat Messi menyamai legenda Jerman Miroslav Klose dengan 16 gol Piala Dunia, total tertinggi dalam sejarah turnamen.
Namun, insiden babak pertama yang melibatkan kapten Aljazair Aissa Mandi dengan cepat menjadi salah satu momen paling kontroversial di turnamen sejauh ini.
Saat Argentina memimpin 1-0, Messi tampak menangkap punggung kaki Mandi saat melakukan tantangan. Wasit Szymon Marciniak menghadiahkan tendangan bebas namun tidak mengambil tindakan lebih lanjut, sementara VAR juga memilih untuk tidak melakukan intervensi.
Keputusan tersebut langsung memicu kemarahan di media sosial, dengan banyak penggemar yang mengklaim bahwa pelanggaran tersebut akan mengakibatkan kartu merah jika dilakukan oleh pemain lain.
Mantan pemain dan pakar angkat bicara
Perdebatan semakin memanas setelah beberapa tokoh sepak bola secara terbuka mengkritik keputusan tersebut.
Mantan bek Real Madrid dan Brasil Marcelo dilaporkan menggambarkan tantangan itu sebagai kartu merah, menunjukkan bahwa Messi mendapat keuntungan dari statusnya.
Mantan kapten Mesir Mohamed Aboutrika juga menyampaikan sentimen yang sama, dengan mengatakan bahwa tantangan tersebut layak untuk dikeluarkan dan mempertanyakan mengapa hukuman yang lebih berat tidak dijatuhkan.
Analis ESPN FC Ale Moreno dan Nedum Onuoha juga termasuk di antara mereka yang merasa wasit membuat keputusan yang buruk, keduanya mengatakan dalam analisis pasca pertandingan mereka bahwa tantangan tersebut memenuhi ambang batas kartu merah.
Sementara itu, media sosial dibanjiri reaksi dari para pendukung, mantan pemain, dan pakar yang mempertanyakan apakah bintang-bintang sepak bola terbesar terkadang menerima perlakuan yang lebih lunak dari para pejabat.
Apakah sejarah terulang kembali?
Kontroversi tersebut juga menghidupkan kembali perdebatan lama seputar karier Messi.
Meskipun menjadi salah satu pemain sepak bola terhebat sepanjang masa, para kritikus telah lama berpendapat bahwa ikon Argentina ini kadang-kadang mendapat manfaat dari keputusan wasit yang menguntungkan, terutama di panggung-panggung terbesar sepak bola.
Pendukung pemenang Ballon d’Or delapan kali itu sangat tidak setuju dengan hal ini, dan menunjuk pada banyaknya pelanggaran dan penganiayaan yang dialami Messi sepanjang kariernya.
Terlepas dari itu, insiden di Aljazair sekali lagi menyoroti konsistensi wasit di turnamen besar.
Messi terus menulis ulang sejarah
Di tengah kontroversi tersebut, malam bersejarah lainnya bagi kapten Argentina itu hilang.
Hat-trick Messi tidak hanya mengamankan tiga poin bagi juara bertahan dunia, tetapi juga memungkinkannya menyamai rekor 16 gol sepanjang masa Piala Dunia milik Miroslav Klose.
Prestasi ini menambah babak luar biasa dalam karir Piala Dunia yang sudah mencakup:
- Pemenang Piala Dunia (2022)
- Dua partisipasi di final Piala Dunia
- Pemenang Bola Emas Piala Dunia
- Pencetak gol terbanyak sepanjang masa Argentina
- Pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Piala Dunia
Pada usia 38, Messi terus tampil di panggung terbesar sepakbola.
Namun saat Argentina merayakan awal yang sempurna di Piala Dunia, perdebatan seputar tantangan mereka melawan Aissa Mandi membuat para penggemar membicarakan lebih dari sekadar gol.
Bagi banyak orang, rekor hat-trick Messi menjadi kisah malam itu.
Bagi yang lain, pertanyaan terbesarnya adalah apakah kapten Argentina itu masih berada di lapangan untuk menyelesaikannya.**






















