Kelompok Houthi dilaporkan telah menyelesaikan persiapan untuk menargetkan kapal-kapal tersebut dengan mengerahkan rudal dan drone di dekat Selat Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden. Reuters, mengutip tiga sumber, mengatakan pasukan Houthi kini menunggu perintah untuk memulai operasi.
Sumber yang sama, menurut outlet tersebut, menambahkan bahwa anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang sudah hadir di Yaman akan mengawasi waktu pengambilan tindakan apa pun untuk menutup jalur air strategis tersebut.
Ancaman baru terhadap pasokan minyak global
Gangguan apa pun terhadap pelayaran melalui Laut Merah akan memperburuk krisis energi global yang sudah dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Dengan ditutupnya Hormuz, serangan terhadap kapal atau pelabuhan di Laut Merah akan secara bersamaan mengganggu dua jalur ekspor minyak utama Timur Tengah, sehingga memperburuk krisis energi dan konfrontasi yang lebih luas antara Iran dan Amerika Serikat.
Konflik AS-Iran
Konflik saat ini dimulai pada tanggal 28 Februari, ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran, yang mendorong Teheran menutup Selat Hormuz, sebuah titik penghubung maritim utama yang sebelumnya menangani sekitar seperlima pasokan energi dunia.
Ketegangan terus meningkat setelah gencatan senjata antara Teheran dan Washington gagal, sehingga memicu kembali kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas dan semakin mengganggu aliran energi global.
Ketegangan AS-Iran masih tinggi
Presiden Donald Trump mengancam akan memperluas serangan AS kecuali Teheran mengubah arah, sementara Iran telah memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat memicu pembalasan yang lebih luas di wilayah tersebut.
Jika Houthi memutuskan untuk memblokir Selat Bab el-Mandeb, hal ini akan membuka konflik besar lainnya, sehingga menimbulkan risiko baru bagi pelayaran internasional, pasar minyak, dan perdagangan global.






















