Pesawat luar angkasa Tianwen-1 milik Tiongkok memotret objek antarbintang 3I/ATLAS saat melintas di dekat Mars. Menurut Badan Antariksa Nasional Tiongkok (CNSA), pengorbit tersebut menggunakan kamera resolusi tinggi untuk menangkap komet yang berjarak sekitar 30 juta kilometer (18,6 juta mil).
Tianwen-1 telah mengorbit Mars selama empat tahun delapan bulan, menjadikannya salah satu pesawat ruang angkasa terdekat yang mengamati objek antarbintang tersebut sejak penemuannya (7 Mei).th2025).
Tianwen-1 mengungkap ekor dan koma komet
Gambar baru menunjukkan beberapa fitur yang mendukung kesimpulan bahwa 3I/ATLAS adalah sebuah komet. Ekor yang terlihat memanjang di belakang objek, sementara awan gas dan debu (koma) mengelilingi intinya.
Para peneliti menggabungkan beberapa gambar menjadi sebuah animasi yang menelusuri pergerakan komet saat berada paling dekat dengan Matahari. Pengamatan ini menambah bukti yang berkembang bahwa 3I/ATLAS mengandung air dan bahan mudah menguap lainnya yang mulai keluar saat objek tersebut memanas selama perjalanannya melalui tata surya bagian dalam.
Pengamatan yang berhasil ini juga memberikan wawasan tentang jenis pekerjaan yang diharapkan dapat dilakukan Tiongkok dengan Tianwen-2. Misi ini diharapkan mengunjungi asteroid dekat Bumi (NEA) dan kemudian mempelajari komet.
Tangkap target kecil dan cepat
Tim Kamera Pencitraan Resolusi Tinggi (HiRIC) Tianwen-1 mulai mempersiapkan pertemuan tersebut pada awal September. Pekerjaan mereka mencakup simulasi berulang, pemodelan teoretis, dan inspeksi instrumen secara mendetail.
Memotret 3I/ATLAS sulit dilakukan karena jarak objeknya jauh dan relatif kecil (diameter 5,6 km, 3,5 mil). Kecepatannya menambah tantangan besar lainnya. Komet tersebut bergerak dengan kecepatan sekitar 58 km/s (36 mph), sedangkan pergerakannya relatif terhadap Tianwen-1 mencapai sekitar 86 km/s (53,5 mph).
Kamera pada awalnya juga tidak dirancang untuk mengamati objek yang begitu gelap. HiRIC dirancang terutama untuk mempelajari fitur cahaya permukaan Mars, seperti instrumen di pesawat ruang angkasa Mars Express dan ExoMars Trace Gas Orbiter (TGO) milik Badan Antariksa Eropa.
Pengorbit Mars mengarahkan kameranya ke arah 3I/ATLAS
3 Oktoberrddua pengorbit Eropa juga memotret 3I/ATLAS. Mars Express menggunakan Kamera Stereo Resolusi Tinggi (HRSC), sedangkan pesawat ruang angkasa ExoMars mengandalkan Sistem Pencitraan Permukaan Warna dan Stereo (CaSSIS).
Komet tersebut sangat sulit dideteksi dengan instrumen ini. Dibandingkan dengan fitur yang diterangi matahari di Mars, 3I/ATLAS tampak 10.000 hingga 100.000 kali lebih redup.
Kamera Stereo Resolusi Tinggi (HRSC) di Mars Express menggunakan waktu pemaparan 0,5 detik, sedangkan Sistem Pencitraan Permukaan Warna dan Stereo (CaSSIS) dapat memaparkan gambar selama 5 detik. Tianwen-1 mengumpulkan pengamatannya dengan Kamera Pencitraan Resolusi Tinggi (HiRIC).
Meskipun waktu pemaparan HiRIC belum dipublikasikan, kamera dirancang untuk pengaturan waktu yang tepat dan pengoperasian yang cepat. Kemampuan ini memungkinkan tim untuk mendapatkan gambar terbaru, meskipun gambar tersebut tampak (walaupun berbintik dan buram).
Sampel langka dari sistem bintang lain
Seperti dua objek antarbintang yang diidentifikasi sebelumnya, 3I/ATLAS menawarkan peluang yang tidak biasa baik bagi astronomi maupun astrobiologi. Asteroid dan komet menyimpan materi sisa pembentukan sistem planet, sehingga objek yang datang dari ruang antarbintang mungkin menyimpan petunjuk tentang kondisi di sekitar bintang lain.
Mempelajari pengunjung tersebut dapat mengungkap bagaimana sistem planet lain terbentuk dan jenis material apa yang dikandungnya. Sebuah misi untuk mencegat objek antarbintang (yang banyak konsepnya sedang dieksplorasi) dapat mengumpulkan informasi yang tidak dapat diperoleh para ilmuwan melalui pengamatan teleskopik biasa.
Satu-satunya alternatif yang sebanding adalah mengirim pesawat ruang angkasa langsung ke bintang lain, sebuah upaya yang memerlukan banyak waktu dan uang.
Misi masa depan bisa memburu pengunjung antarbintang
Para ilmuwan berharap pesawat ruang angkasa masa depan akan siap mencegat objek antarbintang yang baru ditemukan dan memeriksanya dari dekat.
Salah satu proyek yang sedang dikembangkan adalah Comet Interceptor milik Badan Antariksa Eropa. Misi ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2029 dan akan menunggu di luar angkasa untuk mendapatkan kesempatan mempelajari komet yang cocok atau target menjanjikan lainnya.






















