Ketika perang berakhir, kebanyakan orang menanyakan pertanyaan sederhana pada diri mereka sendiri: siapa yang menang? Namun pertanyaan sebenarnya adalah: siapa yang keluar sebagai yang terkuat?
Konflik baru-baru ini yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran merupakan pengingat yang kuat bahwa keberhasilan militer dan keberhasilan strategis tidak selalu sama. Sejarah penuh dengan contoh-contoh di mana kemenangan di medan perang tidak membuahkan hasil politik seperti yang diperjuangkan dalam perang. Dari sudut pandang militer, Amerika Serikat dan Israel telah mencapai hasil yang mengesankan. Fasilitas nuklir Iran telah rusak. Para pemimpin senior dan komandan Korps Garda Revolusi Islam disingkirkan. Infrastruktur militer yang penting telah terdegradasi. Kemampuan Iran untuk memproyeksikan kekuatan telah mengalami kemunduran yang signifikan. Diukur dari segi taktis, ini jelas merupakan keberhasilan.
Namun perang tidak semata-mata dilakukan demi kemenangan taktis. Sebagaimana diamati oleh Carl von Clausewitz, perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain. Operasi militer adalah instrumen yang dirancang untuk mencapai tujuan politik. Pertanyaan sebenarnya adalah apakah tujuan-tujuan politik ini tercapai dan apakah konflik tersebut melemahkan Republik Islam, atau malah memperkuatnya?
Menurut beberapa analis di Carnegie Endowment for International Peace, ada kemungkinan besar Iran telah mencapai tujuan utamanya: kelangsungan hidup. Dan bertahan hidup mungkin sudah cukup. Banyak pengamat berasumsi bahwa rezim otoriter itu rapuh. Singkirkan para pemimpin, hancurkan fasilitas-fasilitas utama dan akhirnya sistem tersebut runtuh. Pengalaman Iran menunjukkan sebaliknya. Selama bertahun-tahun, Teheran telah mengantisipasi kemungkinan serangan pemenggalan kepala. Dia mengembangkan struktur komando yang terdesentralisasi, jaringan keamanan regional, dan rencana darurat yang dirancang untuk menjamin kesinambungan bahkan jika pejabat tinggi terbunuh. Alhasil, meski mengalami kerugian besar, negara tetap berfungsi. Hal ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi siapa pun yang mempelajari Korea Utara. Pyongyang telah menghabiskan waktu puluhan tahun untuk mempersiapkan skenario kehancuran kepemimpinan, isolasi pada masa perang, dan kelangsungan pemerintahan. Asumsi bahwa tersingkirnya seorang pemimpin secara otomatis menyebabkan runtuhnya rezim mungkin jauh lebih optimis daripada kenyataan yang ada.
Pakar Carnegie, Karim Sadjadpour, menggambarkan Iran sebagai “rezim zombie,” sebuah pemerintahan yang tampak lemah, terisolasi, kesulitan secara ekonomi, dan tidak populer secara politik, namun tidak mau mati. Sejarah memberikan beberapa contoh. Kuba telah bertahan dari tekanan selama beberapa dekade. Korea Utara selamat dari kelaparan, sanksi, dan isolasi diplomatik. Vietnam selamat dari kampanye militer yang diyakini banyak orang akan memaksa penyerahan diri secara politik. Pola yang umum adalah bahwa tekanan eksternal seringkali memperkuat kohesi internal dibandingkan melemahkannya. Konflik yang baru-baru ini terjadi dapat membawa dampak serupa. Para pemimpin Iran kini dapat mengatakan bahwa mereka telah selamat dari serangan kekuatan militer paling mumpuni di dunia. Apakah masyarakat awam Iran menerima narasi ini adalah pertanyaan lain. Namun bagi rezim itu sendiri, kelangsungan hidup menjadi bukti legitimasi. Mungkin dampak paling penting dari konflik ini adalah evolusi Iran dari rezim ulama menjadi negara keamanan revolusioner yang semakin didominasi oleh Garda Revolusi dan lembaga keamanan lainnya.
Banyak pengamat berasumsi bahwa perang, sanksi, dan kesulitan ekonomi pada akhirnya akan melahirkan sikap moderat. Para pemimpin Iran dapat mengambil pelajaran sebaliknya: prinsip-prinsip revolusioner menjaga rezim, perlawanan berhasil, dan kompromi adalah hal yang berbahaya. Jika demikian, konflik ini berisiko memperkuat kekakuan ideologi dibandingkan mendorong reformasi. Kenyataan ini menimbulkan keraguan terhadap prospek “perjanjian besar” di masa depan antara Washington dan Teheran. Keterlibatan ekonomi tidak secara otomatis mengubah sistem politik. Jika para pemimpin Iran percaya bahwa sistem yang berlaku saat ini menjamin kelangsungan hidup mereka, maka mereka tidak mempunyai alasan untuk mengubah perilaku mereka secara mendasar. Bagi Teheran, diplomasi bisa mewakili fase kompetisi lain dibandingkan rekonsiliasi. Masih ada pertanyaan yang lebih mendalam: apakah Republik Islam benar-benar menginginkan normalisasi? Apa yang menguntungkan negara bisa menjadi ancaman bagi rezim. Kepentingan nasional dan kepentingan rezim tidak selalu sama.
Bagi para ahli strategi Korea, pelajaran yang bisa diambil sudah jelas. Keberhasilan militer tidak secara otomatis menghasilkan keberhasilan strategis. Pemenggalan kepala pemimpin tidak serta merta menyebabkan runtuhnya rezim. Negara-negara yang mempunyai ideologi sering kali menjadi lebih kohesif di bawah tekanan, dan struktur komando yang terdesentralisasi bisa menjadi sangat tangguh. Yang terpenting, asumsi mengenai Korea Utara memerlukan peninjauan ulang secara terus-menerus.
Implikasinya melampaui perencanaan militer. Para pengambil kebijakan harus berhati-hati sebelum berasumsi bahwa tekanan ekonomi, kampanye informasi, atau bahkan serangan militer terbatas secara otomatis akan menimbulkan moderasi politik dalam sistem ideologi tertutup. Korea Utara, seperti Iran, telah menghabiskan waktu puluhan tahun mengembangkan mekanisme yang memungkinkan rezimnya bertahan dalam kondisi isolasi, sanksi, dan ancaman eksternal. Para pemimpinnya mempelajari konflik luar negeri dengan cermat dan pasti akan mengambil pelajaran dari pengalaman Iran. Beberapa pembelajaran ini dapat memperkuat keyakinan Pyongyang bahwa pencegahan nuklir, kohesi rezim, dan kesabaran strategis tetap menjadi jaminan terbaik untuk kelangsungan hidup. Kemungkinan ini saja seharusnya mendorong kita untuk lebih rendah hati dalam berasumsi tentang bagaimana rezim otoriter merespons tekanan.
Pertanyaan utamanya bukanlah apakah Amerika Serikat dan Israel memenangkan pertempuran, namun apakah kemenangan tersebut mencapai tujuan politik mereka. Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa keberhasilan taktis tidak menjamin keberhasilan strategis. Kemenangan militer yang membuat musuh tetap utuh secara politik, atau bahkan menguat secara politik, belum tentu merupakan kemenangan strategis. Bahayanya bagi para pembuat kebijakan terletak pada kebingungan antara jeda konflik dan penyelesaiannya. Itu bukan hal yang sama. Iran bisa saja keluar dari perang ini dengan lebih lemah secara militer, namun lebih bertekad secara politik. Jika hal ini terbukti benar, maka pelajaran yang paling bertahan lama dari konflik ini adalah: memenangkan pertempuran sering kali lebih mudah daripada mencapai perdamaian setelahnya.
Pensiunan Letjen Chun In-bum adalah mantan komandan Komando Perang Khusus Angkatan Darat Republik Korea.






















