Home Dunia Presiden Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2027

Presiden Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2027

3
0


Meski nilai tukar rupiah melemah, Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,8-6,5 persen pada tahun 2027 melalui penerapan strategi ekonomi yang tepat dan kebijakan fiskal yang bijaksana.

Selain itu, pemerintah Indonesia telah menetapkan sasaran untuk mengurangi tingkat kemiskinan menjadi antara 6,0 dan 6,5 persen, penurunan yang signifikan dari target sebelumnya sebesar 6,5 hingga 7,5 persen. Tingkat pengangguran tercatat juga diperkirakan turun menjadi antara 4,30 dan 4,87%, turun dari target sebelumnya antara 4,44 dan 4,96%.

Di sisi lain, penerimaan negara ditargetkan antara 11,82% hingga 12,40% PDB, sedangkan defisit anggaran dipertahankan antara 1,80% hingga 2,40% PDB. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi defisit APBN sebesar 2,92% pada tahun 2025.

Presiden Subianto memaparkan secara langsung kerangka makroekonomi dan prinsip kebijakan fiskal pada RAPBN tahun 2027 (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN) di DPR (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atau DPR RI) dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Tahun Sidang Kelima Tahun Sidang 2025-2026, pada Rabu, 20 Mei. Subianto menjadi Presiden RI pertama yang menyampaikan langsung pengenalan RAPBN di hadapan para anggota DPR RI.

“Dengan strategi perekonomian yang tepat serta kebijakan fiskal yang bijaksana dan berkelanjutan, saya yakin perekonomian Indonesia dapat tumbuh pada kisaran 5,8 hingga 6,5 ​​persen pada tahun 2027, dan bergerak menuju pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029.” ujar Subianto.

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5% pada tahun 2027 dengan mengatakan bahwa target tersebut realistis dan dapat dicapai serta memiliki potensi yang signifikan.

“Saat ini, tahun ini kami sedang berusaha mendekati angka 6%, jadi potensinya sangat besar,” Sadewa mencontohkan.

Namun di hari yang sama, laporan mengindikasikan rupiah membuka perdagangan pada Rp17.730/US$, melemah 0,20%. Hal ini melanjutkan tekanan yang dirasakan pada sesi perdagangan sebelumnya. Pada Selasa 19 Mei 2026, rupiah ditutup melemah 0,31% pada Rp 17.695/US$, menandai level penutupan terendah sepanjang sejarah.

Pergerakan rupiah saat ini diperkirakan akan banyak dipengaruhi oleh keputusan Bank Indonesia mengenai suku bunga acuan atau BI rate. Keputusan tersebut merupakan salah satu agenda yang paling ditunggu oleh para pelaku pasar, terutama dalam konteks meningkatnya tekanan terhadap rupee dan pasar keuangan nasional.