Home Opini CBD dapat memperlambat penyakit Alzheimer dengan menenangkan sistem kekebalan otak

CBD dapat memperlambat penyakit Alzheimer dengan menenangkan sistem kekebalan otak

5
0


Cannabidiol, lebih dikenal dengan CBD, menarik perhatian para ilmuwan yang mempelajari penyakit Alzheimer. Penelitian baru menunjukkan bahwa senyawa yang berasal dari ganja dapat membantu mengurangi peradangan berbahaya di otak, sebuah proses yang dianggap memainkan peran utama dalam perkembangan penyakit Alzheimer.

Penyakit Alzheimer adalah bentuk paling umum dari demensia, penyakit yang secara bertahap merusak ingatan, pemikiran, dan perilaku. Selama bertahun-tahun, sebagian besar penelitian terhadap penyakit Alzheimer berfokus pada penumpukan plak amiloid dan tau kusut di otak. Gumpalan protein abnormal ini dianggap sebagai tanda khas penyakit ini. Namun, banyak peneliti kini percaya bahwa peradangan kronis di otak juga mungkin menjadi faktor kunci kerusakan sel saraf.

CBD dan radang otak

Peradangan adalah bagian dari respon imun alami tubuh. Di otak, sel kekebalan biasanya membantu melindungi neuron dan menghilangkan kotoran berbahaya. Namun ketika peradangan menjadi kronis, hal itu dapat mulai merusak jaringan otak yang sehat. Aktivasi kekebalan tubuh yang berlebihan ini, sering disebut peradangan saraf, telah dikaitkan dengan penyakit Alzheimer dan beberapa gangguan neurologis lainnya.

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan di eNeuroPara peneliti yang dipimpin oleh Babak Baban dari Universitas Augusta mempelajari apakah CBD dapat membantu menenangkan respons peradangan yang merusak di otak.

Tim menggunakan model tikus penyakit Alzheimer dan memberikan CBD melalui inhalasi. Mereka kemudian melihat bagaimana senyawa tersebut mempengaruhi aktivitas kekebalan tubuh dan sinyal peradangan di sistem saraf pusat, termasuk otak dan sumsum tulang belakang.

Para peneliti mengidentifikasi perubahan pada jalur kekebalan utama

Dengan menggunakan berbagai tes molekuler dan genetik, para ilmuwan menemukan bahwa CBD mengurangi aktivitas beberapa regulator penting yang terlibat dalam peradangan saraf. Pengobatan ini juga dikaitkan dengan penurunan kadar molekul pro-inflamasi, zat yang dapat memperburuk peradangan dan berkontribusi terhadap kerusakan jaringan.

Para peneliti juga telah mengidentifikasi jalur kekebalan spesifik yang tampaknya berinteraksi dengan CBD. Hasil ini menunjukkan bahwa senyawa tersebut dapat mempengaruhi beberapa sistem biologis yang terlibat dalam penyakit Alzheimer.

“Pekerjaan terhadap penyakit Alzheimer telah lama berfokus pada plak dan kusut,” kata Baban. “Tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa peradangan otomatis kronis juga merupakan pemicu utama penyakit. Yang menarik adalah bahwa CBD tidak hanya menenangkan aktivasi kekebalan tubuh yang berlebihan, namun dalam penelitian sebelumnya kami telah menunjukkan bahwa CBD juga dapat membantu menghilangkan plak dan kusut melalui mekanisme yang berbeda. Secara keseluruhan, hal ini menunjukkan pendekatan multi-target dengan potensi terapeutik yang nyata.”

Tumbuhnya minat terhadap pengobatan multi-target untuk penyakit Alzheimer

Para ilmuwan semakin mengeksplorasi pengobatan yang menargetkan berbagai aspek penyakit Alzheimer secara bersamaan. Karena penyakit ini melibatkan banyak perubahan biologis yang tumpang tindih, termasuk peradangan, akumulasi protein, dan kerusakan saraf, para peneliti yakin strategi multitarget terbukti lebih efektif daripada berfokus pada satu jalur.

Meski hasilnya menjanjikan, penelitian ini dilakukan pada tikus dan bukan manusia. Penelitian tambahan dan uji klinis akan diperlukan sebelum para ilmuwan mengetahui apakah CBD dapat menjadi pengobatan yang aman dan efektif untuk penderita penyakit Alzheimer.

Namun, temuan ini menambah bukti bahwa pengendalian peradangan otak bisa menjadi bagian penting dalam pengobatan Alzheimer di masa depan.