Cetakan The History of Java karya Sir Thomas Stamford Raffles tahun 1817 ini merinci komponen-komponen keris, menonjolkan ciri-ciri utamanya, termasuk bilah melengkung yang ikonik. Bentuk keris yang melengkung dan licin dikaitkan dengan Naga, dewa ular dalam mitologi India. Melambangkan saluran irigasi, sungai, mata air, sumur, semburan, air terjun dan pelangi; dengan demikian, bilah yang bergelombang melambangkan pergerakan ular. (Koleksi Sake Santema)
Hanya sedikit benda yang mencerminkan kekayaan warisan Indonesia selain keris. Kekhasan khas Jawa dan Bali, keris ini lebih dari sekadar senjata: keris ini merupakan simbol budaya seremonial. Keris digunakan untuk berbagai tujuan: sebagai senjata, sebagai jimat dengan kekuatan magis, sebagai pusaka yang disucikan, sebagai perlengkapan prajurit istana, sebagai aksesori pakaian upacara, sebagai simbol kepahlawanan, sebagai indikator status sosial, atau sekadar untuk memamerkan kecantikannya. Dalam artikel ini, Sake Santema dari Galeri Hindia menyajikan beberapa cetakan keris antik beserta sejarah singkat asal usul, evolusi, dan makna modernnya.
Keris berakar pada abad ke-9 di Jawa, seperti yang terlihat pada patung di candi Prambanan dan Borobudur. Berevolusi dari belati berbilah lurus, kemungkinan besar belati ini mengadopsi bentuk bilah bergelombang yang ikonik selama periode Majapahit antara abad ke-10 dan ke-14 – ada yang mengatakan terinspirasi oleh belati Dong-Son di Vietnam (300 SM). Keris dapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu: bilah (bila Atau Wilah), menangani (Hulu), dan sarungnya (warangka). Kata keris berasal dari bahasa Jawa Kuno, mungkin berasal dari istilah tersebut ngiris (Atau bunga iris), yang berarti “mengiris”, “mengiris”, atau “memotong menjadi beberapa bagian”.
Meskipun gagang dan sarungnya mungkin terbuat dari kayu langka, gading badak, atau fosil gigi gajah dan dihiasi dengan emas, perak, dan batu permata halus, bilahnya adalah bagian paling suci dari keris. Sarungnya mengontrol kekuatan belati sekaligus melindungi bilahnya. Bilahnya selalu memiliki gelombang yang aneh, yang dianggap membawa keberuntungan dalam tradisi Jawa. Ada yang ditempa dari bahan yang luar biasa – besi astral dari meteorit yang jatuh di dekat Prambanan 200 tahun lalu, atau bahkan puing-puing pesawat dari Perang Dunia II. Bengkel ini penuh dengan ritual, dengan pandai besi, atau empudihormati sebagai pengrajin terampil dan praktisi spiritual yang memohon berkah dan mengilhami pedang dengan sifat mistis. Bilah Keris berkualitas tinggi dikerjakan ulang ratusan kali dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikannya. Sebelumnya, mereka dikatakan mengandung racun saat menempa, sehingga menyebabkan cedera fatal.
Bagi masyarakat awam, keris merupakan aksesoris sehari-hari – terutama saat bepergian – yang berguna sebagai alat pertahanan diri. Di masa damai, pakaian ini terutama dipakai sebagai bagian dari pakaian upacara, biasanya di bagian belakang, mungkin dipengaruhi oleh adat istiadat Portugis awal. Pada masa Majapahit (abad ke-13 hingga ke-16), keris menjadi terkenal di istana-istana Jawa dan di kalangan bangsawan, berkembang dari senjata menjadi benda spiritual yang dipenuhi kekuatan mistis.
Keris dianggap hampir hidup: wadah roh, baik atau jahat. Legenda menceritakan tentang pedang yang bergerak sendiri, membunuh sesuka hati, berdiri saat tuannya memanggil nama aslinya, atau bahkan membuat pemiliknya tidak terlihat saat ada bahaya. Dikatakan bahwa mereka dapat mencegah kebakaran, kematian dan kegagalan panen, atau membawa keberuntungan seperti panen yang melimpah. Jika pemiliknya tidur dengan sebilah keris di bawah bantalnya, maka ruh keris tersebut akan berkomunikasi melalui mimpi.
Harmoni antara senjata dan pemiliknya sangatlah penting. Keris tersebut seringkali diwariskan sebagai pusaka keluarga, atau pusakadiyakini sebagai rumah bagi roh leluhur. Ritual pembersihan Jawa tahunan jamasan memurnikan keris, memperkuat kesaktiannya dan menjaga hubungan dengan leluhur. Di Bali, keris kuno dihormati setiap 210 hari di Tumpek Landep yang artinya “runcing”. Mereka dibersihkan, dipajang di tempat suci kuil, dan dipersembahkan dupa, air suci, makanan merah, dan bunga kepada Brahma, dewa api.
Penyebaran agama Islam pada abad ke-15 membawa motif baru pada keris. Bilah-bilah sebelumnya menampilkan simbol-simbol Hindu-Buddha; yang lebih baru memasukkan kaligrafi dan ikonografi Islam. Keris mengalami kemunduran sebagai senjata tempur setelah kedatangan senjata api Eropa pada abad ke-16, kemudian menghilang lagi ketika Hindia Belanda melarang senjata tajam pada awal abad ke-20.
Pada tahun 2005, UNESCO mengakui keris sebagai mahakarya warisan kemanusiaan lisan dan nonbendawi. Di seluruh Indonesia, keris terus menjadi titik fokus upacara, ritual, dan pertunjukan tradisional. Itu tetap menjadi bagian integral dari pernikahan, melambangkan ketersediaan dan tanggung jawab pengantin pria, dan muncul di dalamnya jalan (wayang kulit), teater, tari dan arak-arakan. Di luar peran seremonialnya, keris juga merupakan penanda identitas dan warisan. Banyak keluarga yang masih memiliki keris pusaka yang diwariskan layaknya harta karun pusaka. Para kolektor dan peminat terus mengapresiasi seni dan makna sejarah keris kuno, sementara pandai besi kontemporer melanjutkan tradisi tersebut dengan menempa bilah baru menggunakan teknik kuno.
Cetakan barang ini dapat dibeli melalui Indies Gallery, sedangkan cetakan ulang berkualitas tinggi dapat ditemukan di Old East Indies.
Galeri Hindia dan Hindia Timur Lama
Jl. Gambuh No. 17, Denpasar, Bali
www.indiesgallery.com






















