Temukan Kampung Ismail Marzuki, kawasan budaya tersembunyi di Setu Babakan di mana pengunjung dapat menjelajahi rumah tradisional dan gaya hidup masyarakat asli Betawi Jakarta.
Mendengar nama Jakarta, suku apa yang terlintas di benak Anda? Kita mungkin berpikir tentang masyarakat Jawa, yang mendominasi kota dengan 36,17% dari total penduduk menurut Badan Pusat Statistik (Badan Pusat Statistik atau BPS) pada tahun 2010. Konon, tahukah Anda apa yang terjadi setelah orang Jawa? Bukan, ini bukan bahasa Sunda; Itu Betawi.
Orang Betawi sebenarnya adalah penduduk asli Jakarta; sebuah komunitas yang menetap di wilayah tersebut sejak tahun 18th abad, maksudnya pada zaman penjajahan Belanda. Nama “Betawi” diambil dari nama lama Jakarta, Batavia, tempat berbagai komunitas baik Jawa, Sunda, Melayu, Tionghoa, Arab bahkan Eropa berkumpul dan membentuk identitas budaya tersendiri.
Saat ini, seiring dengan perkembangan Jakarta yang masif dan pesat, keberadaan masyarakat Betawi semakin terpinggirkan. Meski merupakan penduduk asli Jakarta, menurut BPS, warga Betawi kini hanya berjumlah sekitar 28,29 persen dari total penduduk Jakarta. Saat ini, banyak dari mereka yang menetap di pinggiran kota terluar Jakarta, seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang, sedangkan mereka yang memutuskan untuk tinggal di kota tidak punya pilihan selain tinggal di kawasan padat penduduk.
Meski demikian, masyarakat Betawi tetap melestarikan warisan budayanya, dengan harapan generasi mendatang akan mewarisi warisan tersebut. Beberapa tradisi Betawi populer yang masih ditemukan hingga saat ini antara lain ondel ondel, palang pintu, gambang kromong, panjangDan keroncong.
Selain itu, replika kampung adat Betawi juga bisa kita temukan di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Jika anda ingin tahu lebih jauh seperti apa hunian orang Betawi pada masa lalu, anda bisa mengunjungi Area C Setu Babakan, tepatnya di kawasan yang bernama Kampung Ismail Marzuki. Situs ini dapat diakses melalui Jl. Srengseng Sawah, terletak di belakang Masjid Jami’ Baitul Ma’mur, dengan papan petunjuk yang mengarahkan pengunjung ke gerbang utama. Desa budaya ini dibuka untuk umum setiap hari mulai jam 7 pagi hingga jam 5 sore. dan juga mudah diakses dengan transportasi umum. Anda dapat naik KRL commuter line dan berhenti di stasiun Universitas Pancasila, kemudian dilanjutkan dengan ojek online (ojek daring), yang hanya dikenakan biaya sekitar Rp 8.000-15.000 sekali jalan.
Sesampainya di Setu Babakan Area C, security akan meminta Anda memindai kode QR di gerbang utama. Tenang saja, tidak dipungut biaya masuk bahkan parkir kendaraan.
Pintu masuk utama Kampung Ismail Marzuki dilengkapi dengan gerbang kayu besar dengan atap tradisional berbentuk limas. Di dalamnya, area ini dibagi menjadi tiga bagian: Pinggir Betawi (pinggiran Betawi), Betawi Tengah (Betawi Tengah), dan Betawi Pesisir (Pesisir Betawi); masing-masing menampilkan gaya hunian yang berbeda.
Pinggir Betawi (disebut juga Betawi Ora atau Betawi Udik) merujuk pada masyarakat Betawi yang bermukim di pesisir pantai Jakarta kemudian berpindah ke kawasan pusat hingga akhirnya sampai di pinggiran kota seperti Condet di Jakarta Timur, Jagakarsa di Jakarta Selatan, serta pinggiran kota seperti Depok dan Bekasi. Di lokasi khusus ini Anda dapat melihat rumah bapangyang merupakan rumah adat Betawi bercirikan atapnya yang berbentuk pelana. Struktur dasarnya dibangun di atas bingkai kayu yang dihias dengan dekorasi gigi balang patung di fasad. Tidak terlalu jauh dari rumah bapangAnda juga dapat menemukan yang tradisional perang (camilan), saung (belvedere), empang (kolam ikan), sumur (akhirnya), dan bahasa (masjid kecil). Selanjutnya terdapat area dermaga yang menghadap ke Danau Setu Babakan yang luas.
Langkah selanjutnya adalah Betawi Tengah (disebut juga Betawi Kota) yang merujuk pada masyarakat Betawi yang pernah bermukim di kawasan Jakarta Pusat, antara lain Menteng, Senen, dan Tanah Abang. Di area ini Anda dapat menemukannya rumah kebayayang memiliki teras depan yang luas untuk menampung tamu yang juga mencerminkan sifat keterbukaan dan keramahan budaya Betawi. Hal lain yang membedakan rumah ini rumah bapang adalah panjang rumah dan desain atapnya. Apalagi di Betawi Tengahada sebuah sapu warga (balai komunitas), masjid tradisional dan juga kandang ternak.
Akhirnya, Betawi Pesisiryang bisa dibilang merupakan kawasan paling populer di kalangan pengunjung. Betawi Pesisir mencakup masyarakat Betawi yang mendiami wilayah pesisir Jakarta, antara lain Muara Angke, Marunda, dan Cilincing di Jakarta Utara. Di sini pengunjung dapat menemukannya rumah pulo Dan rumah pesisir. Karena lingkungan pesisir, kedua rumah tersebut dibangun dengan bahan tahan lembab dan dibangun di atas struktur seperti panggung untuk melindungi dari banjir dan gelombang pasang. Rumah Pulo biasanya memiliki desain berbentuk L, sedangkan rumah pesisir mengikuti bentuk linier. Sedangkan yang lebih besar empang Di dalam Betawi Pesisir mencerminkan gaya hidup masyarakat pesisir.
Dengan angin sepoi-sepoi, tanaman hijau subur, dan pemandangan danau yang tenang, Kampung Ismail Marzuki menawarkan pelarian yang menyegarkan dari hiruk pikuk kehidupan kota Jakarta. Lebih dari sekedar tempat bersantai, Kampung Ismail Marzuki adalah kesaksian hidup akar budaya kuno kota ini. Baik dikunjungi sendiri atau bersama orang-orang terkasih, desa budaya ini menawarkan relaksasi dan wawasan tentang warisan abadi Betawi. Tip: untuk pengalaman terbaik, rencanakan kunjungan Anda di pagi hari – antara jam 7 pagi dan 10 pagi – atau sore hari – antara jam 3 sore. dan jam 5 sore. – saat suasana paling menyenangkan.
Berkunjung ke kampung budaya Betawi belum lengkap rasanya tanpa mencicipi masakan tradisional Betawi. Di dekat Kampung Ismail Marzuki, Anda akan menemukan Sop & Soto Betawi Pak Kumis, sebuah kedai makan yang menawarkan hidangan otentik Soto Betawi dengan kuah kaldu yang kental dan sedikit manis serta irisan daging sapi yang empuk. Ini adalah tempat yang tepat untuk mengakhiri tur Anda setelah menjelajahi kawasan tersebut, terutama bagi mereka yang ingin merasakan akar budaya kota metropolitan paling dinamis di Indonesia.






















