Home Ekonomi Filosofi festival: bagaimana Festival Penulis dan Pembaca Ubud menyuarakan suaranya setiap tahun

Filosofi festival: bagaimana Festival Penulis dan Pembaca Ubud menyuarakan suaranya setiap tahun

2
0


Dr. I Ketut Suardanapresiden Yayasan Mudra Swari Saraswati dan salah satu pendiri UWRF (tengah)

Setiap tahun, itu Festival Penulis dan Pembaca Ubud (UWRF) dipandu oleh sebuah tema – sebuah ide yang diambil dari filosofi, mitos atau kitab suci Bali atau Hindu – yang membentuk program, menginspirasi karya seni dan menentukan suasana dialog. Tema-tema ini dipilih dengan cermat agar sesuai dengan kearifan lokal dan keprihatinan universal, memastikan bahwa festival ini tetap menjadi ruang dinamis untuk bercerita, bertukar pikiran, dan refleksi.

Untuk memahami bagaimana tema-tema ini menjadi nyata, saya berbicara dengan Dr. I Ketut Suardanapresiden Yayasan Mudra Swari Saraswati dan salah satu pendiri UWRF. Pak Ketut telah mengawasi prosesnya sejak dimulainya festival ini, dan visinya terus memberi semangat pada setiap edisi baru. Ia menjelaskan bahwa ia suka memilih tema-tema dari kearifan Hindu Bali, meski terkadang menyentuh filosofi Hindu atau tradisi Jawa yang lebih luas.

Selama 22 tahun penyelenggaraan festival ini, beragam mulai dari Weda, Upanishad hingga ajaran Dharma Bali dan mistisisme Jawa, selalu memadukan duniawi dengan spiritual. Tujuannya, tegasnya, adalah untuk merefleksikan saling ketergantungan yang mengikat umat manusia: asal usul kita yang sama, pencarian kita akan harmoni dan kesejahteraan, serta interaksi antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Tema adalah jangkar makna

Ilustrasi tematik UWRF 2025, dibuat oleh seorang desainer grafis Aldilla Laras; dengan lontar daun lontar Bali yang diperoleh dengan bantuan seorang penulis Bali Carma Mira

Setelah tema dipilih, pendiri festival Janet DeNeefe dan timnya menugaskan seniman Bali atau Indonesia untuk menafsirkannya secara visual. Karya seni menjadi lambang festival, sedangkan programnya dirancang untuk menggemakan tema tersebut melalui suara penulis, penyair, jurnalis, musisi, seniman, dan aktivis. Sinergi antara tema, seni, dan dialog memastikan bahwa festival ini tidak hanya menstimulasi secara intelektual, namun juga bergema secara visual dan emosional.

Tema bukanlah slogan abstrak. Ini adalah ide-ide hidup yang tersebar di setiap aspek festival. Contoh yang mencolok adalah tema tahun lalu, Aham Brahmasmi– “Akulah Semesta.” Berakar pada Upanishad, ia mengungkapkan kesatuan jiwa individu (Atman) dengan kesadaran universal (Brahman). Pemrograman festival ini mewujudkan ide mendalam ini melalui diskusi, pertunjukan dan seni, menyatukan suara-suara yang merayakan keterhubungan. Hal ini merupakan pengingat bahwa sastra dan penceritaan bukan hanya sekedar kata-kata, namun juga tentang kebenaran terdalam yang mempersatukan kita.

Tema Samarasā 2026: Harmoni pikiran, hati dan tindakan

Untuk tahun 2026, tema yang dipilih adalah Samarasā: kesadaran, empati dan tindakan. Diambil dari filsafat Sansekerta, menekankan pada keselarasan antar Citta (roh), Rasa (hati), dan Karsa (tindakan). Triad ini mengundang refleksi tentang bagaimana pemikiran, perasaan, dan tindakan dapat selaras: kesadaran memberikan kejelasan, empati membina hubungan, dan tindakan mengubah visi menjadi tujuan. Ini adalah tema yang tampaknya sangat mendesak di zaman kita, di mana keseimbangan antara kecerdasan, kasih sayang, dan tanggung jawab sering kali menjadi tegang.

Program tahun ini akan mengeksplorasi bagaimana kekuatan-kekuatan ini membentuk kita, menelusuri siklus kehidupan mulai dari teknologi hingga spiritual, dari personal hingga lingkungan. Tujuannya bukan hanya untuk memahami di mana kita berada, namun juga untuk membimbing umat manusia ke tempat yang harus kita tuju: masa depan yang ditentukan oleh respons yang penuh kasih. Dengan cara ini, Samarasa adalah meditasi filosofis dan seruan praktis untuk bertindak.

Karya seni: memvisualisasikan harmoni

Wayan Aris Sarmanta, seniman muda Batuan yang karyanya dijadikan tema tahun ini

Karya seni untuk Samarasa diciptakan oleh seniman Bali Wayan Aris Sarmanta yang berkarya dengan gaya lukisan Batuan. Penafsirannya menyatukan pikiran, perasaan, dan tindakan dalam gambaran yang hidup di mana makhluk mitos, lanskap, dan sosok manusia berkilau dengan energi. Lukisan ini menggambarkan dunia di mana manusia – mewakili pemikiran/kesadaran, alam – menuntut rasa hormat dan perhatian, dan harimau Bali – melambangkan tindakan, saling terhubung dalam visi keseimbangan dan kesatuan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, karya seni tidak hanya bersifat dekoratif; ini adalah jangkar visual yang mengingatkan pengunjung festival akan makna mendalam dari percakapan dan pertunjukan yang mereka alami.

Pesta cerita

Pada intinya, UWRF adalah suguhan cerita. Masing-masing tema memuat beragam program debat, pertunjukan, pemutaran film, dan lokakarya, sementara karya seninya menyoroti peran penting seniman dalam membentuk dialog. Sinergi antara tema, seni dan diskusi memastikan bahwa setiap festival tidak hanya merupakan perayaan sastra tetapi juga sebuah meditasi tentang apa artinya menjadi manusia.

Pendiri festival Janet DeNeefe (kiri) dan Dr. I Ketut Suardana (kanan) menyerahkan Lifetime Achievement Award 2019 kepada I Made Taro, yang dikenal karena 30 bukunya tentang permainan tradisional Bali, lagu, dan cerita rakyat.

Panel festival mempertemukan tokoh-tokoh sastra, penulis baru, jurnalis, pemikir, dan seniman dari seluruh dunia. Percakapan berkisar pada tema, namun sering kali melampaui batas, menciptakan koneksi dan ide yang tidak terduga. Pertunjukan malam hari, pemutaran film, dan acara budaya menambah lapisan lain, mengubah UWRF menjadi kaleidoskop suara dan perspektif. Interaksi dinamis inilah – antara tema dan spontanitas, antara dialog terencana dan pertukaran kesempatan – yang membuat festival ini begitu menarik.

Mengapa tema itu penting

Tema memastikan konsistensi. Hal-hal tersebut menjadi tulang punggung festival, sebuah prinsip panduan yang tidak hanya membentuk program namun juga semangat acara, sehingga menghasilkan eksplorasi terpadu atas gagasan dan refleksi yang bertahan lama setelah festival berakhir.

Tema-tema UWRF bergema di luar festival itu sendiri. Mereka mengundang pembaca, penulis, dan pembaca di seluruh dunia untuk berpikir tentang bagaimana kearifan kuno dan tantangan kontemporer saling bersinggungan. Mereka mengingatkan kita bahwa bercerita bukan hanya sekedar hiburan tetapi juga cara untuk menghadapi pertanyaan besar: siapakah kita? Kemana kita akan pergi? Bagaimana kita bisa hidup harmonis satu sama lain dan dunia sekitar kita?

Tema Festival Penulis dan Pembaca Ubud menghubungkan filosofi, seni, dan penceritaan serta mengundang refleksi atas kemanusiaan kita bersama. Dengan demikian, mereka memandu program dinamis festival. Pada tahun 2026, seruan untuk menyeimbangkan kesadaran, empati, dan tindakan mengingatkan kita bahwa sastra dan dialog bukan hanya tentang memahami dunia, namun juga tentang membentuknya dengan kasih sayang dan tujuan.

UWRF pada intinya tetap merupakan perayaan penceritaan dengan kedalaman, visi dan komitmen terhadap harmoni. Hal inilah yang menjadikannya tidak hanya sekedar festival, namun juga menjadi perbincangan hidup tentang perjalanan manusia.

Ubud Writers & Readers Festival 2026 akan berlangsung pada tanggal 21 hingga 25 Oktober 2026. Pengumuman responden pertama, program, dan tiket pemesanan awal sudah tersedia di situs web mereka.: ubudwritersfestival.com

Ines Wynn

Penulis independen dengan pemikiran kupu-kupu, selera eklektik, dan ide tak terbatas, saat ini tinggal di Indonesia setelah perjalanan panjang dan mendalam melintasi empat benua. Ines mengeksplorasi tema-tema lingkungan, tradisi budaya, kehidupan nomaden dan baby boomer, serta menciptakan pelaporan mendalam yang mengungkap kisah-kisah yang membentuk komunitas dan lanskap.