Home Ekonomi Ekspatriat mendapat kecaman setelah mengeluarkan orang Indonesia dari grup WhatsApp Bali

Ekspatriat mendapat kecaman setelah mengeluarkan orang Indonesia dari grup WhatsApp Bali

2
0


BADUNG, Bali – Seorang warga asing di Bali menghadapi kritik yang semakin besar setelah anggotanya yang berasal dari Indonesia dilarang masuk ke grup WhatsApp ekspatriat, dan insiden tersebut memicu kembali perdebatan mengenai diskriminasi dan memicu tanggapan dari otoritas imigrasi.

Kontroversi tersebut mendapat perhatian setelah pembuat konten Italia Christian Giacobbe mengkritik keputusan tersebut dalam sebuah video yang diposting di akun media sosialnya pada hari Senin.

Dalam video tersebut, Giacobbe mengidentifikasi administrator grup tersebut sebagai Sergey Melnikov, dan mengatakan bahwa dia telah menghapus semua anggota Indonesia dari grup WhatsApp Garage Sales di Amed.

“Ini Sergey, pencipta grup Garage Sales di Amed. Suatu saat dia memutuskan untuk mengeluarkan semua orang Indonesia dari grup tersebut,” kata Giacobbe.

Tangkapan layar yang dibagikan dalam video tersebut menunjukkan pesan yang dikaitkan dengan Melnikov yang menjelaskan bahwa grup tersebut awalnya dibuat untuk komunitas ekspatriat di Amed. Ia menjelaskan bahwa seiring dengan semakin banyaknya warga lokal yang bergabung dengan kelompok tersebut, beberapa diantaranya tidak mematuhi peraturan kelompok tersebut, sehingga ia mengeluarkan anggotanya yang berasal dari Indonesia sehingga warga asing akan merasa “lebih aman”.

“Grup ini ditujukan untuk komunitas ekspatriat. Namun, karena semakin banyak penduduk lokal yang bergabung dan mulai mengabaikan peraturan, saya memutuskan untuk menghapus mereka agar anggota asing merasa lebih aman. Saya dapat menambahkan kembali mereka yang berjanji untuk mengikuti peraturan. Mohon jangan tersinggung,” tulis postingan tersebut.

Penjelasan tersebut dengan cepat menuai kritik dari warga Indonesia dan ekspatriat lainnya, beberapa di antaranya mengatakan anggotanya dipecat meski tidak pernah melanggar aturan kelompok tersebut.

Komentar yang dibagikan dalam video Giacobbe meliputi:

“Apakah kamu baru saja mengeluarkan semua orang Indonesia dari grup? Ya Tuhan.”

“Saya harap tidak. Kelompok ini sangat membantu. Sedih rasanya jika semua warga diusir hanya karena punya nomor telepon Indonesia.”

“Kamu baru saja memecat pasanganku, padahal dia tidak pernah melanggar satupun peraturanmu.”

Administrator mengutip kekhawatiran imigrasi

Menyusul reaksi tersebut, Melnikov memberikan klarifikasi, dengan mengatakan bahwa grup WhatsApp awalnya dibuat sebagai pasar kecil untuk ekspatriat yang tinggal di Amed dan bukan sebagai forum komunitas publik.

Dia mengatakan baru-baru ini dia menerima pesan dari anggota yang menyatakan keprihatinannya terhadap aktivitas yang terjadi di dalam kelompok tersebut menyusul adanya laporan pemeriksaan imigrasi di Bali. Menurut Melnikov, meskipun menjual barang-barang pribadi bekas secara umum tidak menjadi masalah, beberapa posisi telah meluas ke aktivitas seperti menyewakan properti, menjual barang impor dan menawarkan berbagai layanan, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan anggota tentang kemungkinan risiko hukum.

“Baru-baru ini saya banyak menerima pesan yang menanyakan apakah aktivitas kelompok ini masih aman menyusul adanya pemberitaan tentang layanan imigrasi menyusul adanya keluhan dari warga sekitar. Meski penjualan barang bekas biasanya tidak menjadi masalah, namun ada juga pesan tentang menyewakan, menjual barang impor dari luar negeri, dan menawarkan berbagai layanan,” tulis Melnikov.

Namun penjelasannya gagal meredakan kritik, dengan banyak pengguna media sosial mengatakan kekhawatiran atas penegakan imigrasi tidak membenarkan pemecatan anggota berdasarkan kewarganegaraan mereka saja.

Imigrasi merespons

Menanggapi kontroversi tersebut, Husnan, juru bicara kantor imigrasi Ngurah Rai, mengatakan pihak berwenang akan memeriksa terlebih dahulu informasi yang beredar secara online.

“Kami akan verifikasi dulu informasinya. Dari pihak kami, kami fokus pada izin keimigrasian masing-masing WNA,” kata Husnan.

Ia menegaskan, percakapan dalam grup WhatsApp pribadi merupakan ruang komunikasi pribadi. Namun, dia mengatakan pihak imigrasi akan menyelidiki jika mereka menerima laporan yang mengindikasikan kemungkinan pelanggaran keimigrasian.

“Jika ada laporan akan segera ditindaklanjuti,” imbuhnya.

Perdebatan yang lebih luas

Insiden tersebut memicu perdebatan yang lebih luas di media sosial mengenai hubungan antara komunitas ekspatriat di Bali dan penduduk lokal, pada saat pihak berwenang Indonesia terus memperketat kontrol imigrasi terhadap orang asing yang kedapatan melanggar persyaratan tinggal mereka.

Meskipun ada yang berpendapat bahwa kelompok swasta mempunyai hak untuk menentukan anggota mereka sendiri, ada pula yang berpendapat bahwa mengecualikan anggota semata-mata karena mereka warga negara Indonesia berisiko memperdalam perpecahan antara ekspatriat dan masyarakat lokal.

Pada saat publikasi, otoritas imigrasi tidak mengindikasikan bahwa mereka sedang menyelidiki administrasi grup WhatsApp itu sendiri. Para pejabat menegaskan kembali bahwa tindakan apa pun akan fokus pada potensi pelanggaran undang-undang imigrasi Indonesia jika ada bukti atau laporan resmi.

Penafian: Meskipun segala upaya telah dilakukan untuk memastikan keakuratannya, artikel ini mungkin mengandung sedikit ketidakakuratan dalam nama, lokasi, atau detail acara. Pembaca diundang untuk menghubungi tim editorial untuk klarifikasi apa pun.