Afrika menjadi pemenang terbesar format Piala Dunia FIFA 2026 yang diperluas, dengan sembilan dari sepuluh wakilnya mencapai babak sistem gugur.
Sebelum turnamen dimulai, muncul pertanyaan di beberapa kalangan tentang apakah Afrika layak mendapat tempat 10 dalam kompetisi yang diperluas dengan 48 tim itu.
Di antara mereka yang mempertanyakan alokasi ini adalah Gennaro Gattuso, yang menilai Afrika mendapat terlalu banyak slot dibandingkan Eropa dan Amerika Selatan.
Namun setelah babak penyisihan grup berakhir, tim-tim Afrika memberikan respon sekuat mungkin di lapangan.
Angka-angka tersebut kini menceritakan kisah yang sangat berbeda.
Afrika mencatat tingkat kelangsungan hidup terbaik dari semua konfederasi di Piala Dunia FIFA 2026.
Dimulainya alokasi regional selama Piala Dunia FIFA 2026
Turnamen ini diperluas menjadi 48 tim dengan distribusi kontinental sebagai berikut:
• Eropa (UEFA): 16 tim
• Afrika (CAF): 10 tim
• Asia (AFC): 9 tim
• Amerika Selatan (CONMEBOL): 6 tim
• Amerika Utara/Tengah (CONCACAF): 6 tim
• Oseania (OFC): 1 tim
Ini merupakan representasi tertinggi di Piala Dunia dalam sejarah sepak bola Afrika.
Daripada melawan peningkatan alokasi, tim-tim Afrika justru memanfaatkannya.
Tim tertinggal dalam fase eliminasi oleh Konfederasi
Di akhir babak penyisihan grup, berikut performa masing-masing konfederasi.
Afrika (CAF): 9 dari 10 tim tersisa (90%)
Tim awal
Afrika Selatan
Maroko
Pantai Gading
Kongo
Senegal
Aljazair
Mesir
Ghana
Tanjung Verde
Tunisia
Dieliminasi
Tunisia
Afrika memiliki tingkat kemajuan terbaik di turnamen ini yaitu 90%, dengan sembilan dari 10 wakilnya melaju ke babak sistem gugur.
Eropa (UEFA): tersisa 13 tim dari 16 tim (81,25%)
Tim awal
Jerman
Swiss
Ceko
Belanda
Suede
Belgia
Spanyol
Perancis
Norwegia
Austria
Portugal
Kroasia
Inggris
Bosnia dan Herzegovina
Turki
Skotlandia
Dieliminasi
Ceko
Turki
Skotlandia
Eropa masih memiliki jumlah tim tersisa terbanyak, namun masih tertinggal dari Afrika dalam hal tingkat kelangsungan hidup.
Amerika Selatan (CONMEBOL): tersisa 5 dari 6 tim (83,3%)
Tim awal
Brazil
Paraguay
Ekuador
Argentina
Kolumbia
Uruguay
Dieliminasi
Uruguay
Amerika Selatan tetap menjadi salah satu wilayah terkuat di kompetisi ini, dengan lima dari enam timnya mencapai babak 16 besar.
Amerika Utara/Tengah (CONCACAF): 3 dari 6 tim tersisa (50%)
Tim awal
Meksiko
Kanada
Amerika Serikat
Panama
Curaçao
Haiti
Dieliminasi
Panama
Curaçao
Haiti
Wilayah tuan rumah memperlihatkan hasil yang beragam, dengan Meksiko, Kanada dan Amerika Serikat lolos sementara tiga lainnya tersingkir di babak penyisihan grup.
Asia (AFC): 2 tim tersisa dari 9 (22,2%)
Tim awal
Jepang
Australia
Korea Selatan
Iran
Yordania
Uzbekistan
Irak
Arab Saudi
Qatar
Dieliminasi
Korea Selatan
Iran
Yordania
Uzbekistan
Irak
Arab Saudi
Qatar
Asia mengalami penurunan terbesar di antara konfederasi besar, dengan hanya Jepang dan Australia yang mencapai babak 16 besar.
Oseania (OFC): 0 dari 1 tim tersisa (0%)
Tim awal
Selandia Baru
Dieliminasi
Selandia Baru
Oceania tak lagi terwakili di babak 16 besar.
Peringkat Tingkat Kelangsungan Hidup Konfederasi
- Afrika (CAF): 90%
- Amerika Selatan (CONMEBOL): 83,3%
- Eropa (UEFA): 81,25%
- Amerika Utara/Tengah (CONCACAF): 50%
- Asia (AFC): 22,2%
- Oseania (OFC): 0%
Tingkat kemajuan Afrika sebesar 90% adalah puncak dari babak penyisihan grup.
Pertunjukan utama Afrika
Tim-tim Afrika tidak hanya lolos. Mereka berkompetisi, memberikan kesan dan mengubah narasi tentang posisi benua ini dalam dunia sepakbola.
Maroko terus membangun perjalanan bersejarahnya di Piala Dunia 2022 dan tetap menjadi salah satu tim yang paling sulit ditembus.
Afrika Selatan terkesan dengan disiplin, struktur, dan ketahanan mereka.
Mesir menunjukkan kualitas dan pengalaman turnamen.
Tanjung Verde menjadi salah satu kejutan terbesar turnamen ini.
Senegal, Aljazair, Ghana, Pantai Gading, dan Republik Demokratik Kongo semuanya telah menunjukkan bahwa pertumbuhan sepak bola Afrika tidak lagi terbatas pada satu atau dua negara elit saja.
Ini mungkin hal yang paling penting untuk diingat.
Ini bukan lagi persoalan pergolakan di Afrika yang terisolasi.
Ini adalah kemajuan kontinental yang meluas.
Kesenjangannya semakin menyempit
Selama beberapa dekade, Eropa dan Amerika Selatan mendominasi sepakbola dunia.
Kesenjangan ini semakin menyempit.
Tim-tim Afrika lebih terorganisir secara taktis.
Para pemain mereka bermain di liga terbesar di dunia.
Tim nasional mereka kini menggabungkan bakat elit, struktur, kepercayaan diri, dan kematangan turnamen.
Piala Dunia FIFA 2026 membuktikan apa yang diyakini banyak orang.
Afrika tidak lagi puas hanya dengan berpartisipasi.
Afrika sedang bersaing.
Afrika menang.
Dan berdasarkan apa yang telah kita lihat sejauh ini, argumen bahwa Afrika tidak pantas mendapat 10 tempat di Piala Dunia menjadi semakin sulit untuk dibuktikan.






















